RADARSOLO.COM - Pakaian tidak lagi sekadar digunakan untuk menutup tubuh atau mengikuti tren. Bagi sebagian anak muda, busana menjadi salah satu cara untuk menunjukkan karakter, selera, bahkan cara mereka melihat diri sendiri. Sebab itu, gaya berpakaian kini semakin beragam dan tidak selalu mengikuti aturan lama tentang pakaian untuk laki-laki atau perempuan.
Tren tersebut terlihat dari munculnya berbagai gaya yang banyak digunakan anak muda, mulai dari retro, oversized, hingga gender-fluid. Ketiganya memiliki karakter berbeda, tetapi sama-sama menunjukkan kecenderungan anak muda untuk lebih bebas dalam menentukan penampilan.
Gaya retro, misalnya, kembali membawa unsur fashion dari masa lalu ke dalam penampilan masa kini. Potongan pakaian, warna, motif, hingga aksesori yang terinspirasi dari era tertentu dipadukan dengan gaya modern. Celana dengan potongan klasik, jaket vintage, kaus bergambar, hingga penggunaan aksesori tertentu dapat menjadi bagian dari tampilan tersebut.
Baca Juga: Suka Gaya Fesyen Minimalis hingga Trendy? Ini 6 Brand Lokal yang Bisa Jadi Pilihan
Popularitas gaya retro juga tidak terlepas dari media sosial. Foto dan video dengan nuansa vintage mudah ditemukan di berbagai platform. Anak muda kemudian tidak hanya mengenakan pakaian yang sedang populer, tetapi juga mengadaptasi kembali gaya dari dekade sebelumnya dengan sentuhan pribadi.
Selain retro, pakaian oversized juga menjadi pilihan yang banyak ditemui. Kaos, kemeja, jaket, hingga celana dengan ukuran longgar memberikan kesan santai sekaligus nyaman. Gaya ini juga mudah dipadukan dengan berbagai jenis pakaian sehingga dapat digunakan dalam banyak kesempatan.
Oversized juga menunjukkan perubahan pandangan terhadap ukuran pakaian. Jika sebelumnya pakaian yang dianggap ideal sering dikaitkan dengan ukuran yang pas dengan tubuh, kini pakaian longgar justru menjadi bagian dari gaya tersendiri.
Perubahan yang lebih luas terlihat dalam tren gender-fluid. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan gaya yang tidak terpaku pada pembagian pakaian berdasarkan kategori gender secara kaku. Seseorang dapat memilih pakaian berdasarkan kenyamanan dan selera tanpa harus merasa bahwa sebuah model hanya diperuntukkan bagi laki-laki atau perempuan.
Baca Juga: Berburu Kebaya di Pasar Triwindu, Hidden Gem Fashion Vintage di Solo
Kemeja, celana longgar, blazer, jaket, atau aksesori tertentu dapat digunakan siapa saja. Batas antara pakaian yang selama ini dianggap maskulin atau feminin pun menjadi semakin cair dalam dunia fashion.
Media sosial turut mempercepat perubahan tersebut. Anak muda dapat melihat gaya berpakaian dari berbagai negara dan budaya hanya melalui layar ponsel. Inspirasi tersebut kemudian bercampur dengan gaya lokal dan menghasilkan penampilan yang lebih personal.
Di tengah cepatnya perubahan tren, satu hal yang tampaknya semakin menonjol adalah kebebasan memilih. Bagi generasi muda, berpakaian bukan hanya tentang apa yang sedang populer, tetapi juga tentang bagaimana seseorang merasa nyaman dan percaya diri dengan apa yang dikenakannya. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno