RADARSOLO.COM - Bangun pagi, bekerja atau kuliah, mengejar target, pulang dalam keadaan lelah, lalu mengulang rutinitas yang sama keesokan harinya. Kesibukan seperti itu dulu kerap dianggap sebagai tanda seseorang sedang produktif dan berusaha mencapai kesuksesan. Namun, bagi sebagian anak muda saat ini, hidup tidak selalu harus dijalani dengan ritme yang serba cepat.
Munculnya tren soft life menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap kehidupan. Istilah tersebut merujuk pada keinginan untuk menjalani hidup dengan lebih tenang, nyaman, dan seimbang, tanpa terus-menerus terjebak dalam tekanan untuk bekerja atau beraktivitas secara berlebihan.
Di media sosial, gaya hidup soft life sering digambarkan melalui aktivitas sederhana. Menikmati waktu luang, merawat diri, pergi berjalan-jalan, membaca buku, menikmati kopi, atau sekadar menghabiskan waktu di rumah dapat menjadi bagian dari gaya hidup ini.
Baca Juga: Tak Pernah Bertengkar Tapi Kok Makin Jauh? Mungkin Pertemananmu Lagi di Fase Drifting Apart
Namun, soft life sebenarnya tidak selalu berarti hidup tanpa pekerjaan atau tanggung jawab. Lebih dari itu, konsep ini berkaitan dengan bagaimana seseorang mengatur batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Bagi sebagian anak muda, memiliki pekerjaan yang baik tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Waktu untuk keluarga, teman, hobi, kesehatan, dan diri sendiri juga mulai dianggap penting.
Perubahan pandangan tersebut tidak muncul begitu saja. Kehidupan modern membuat banyak orang terbiasa dengan tuntutan untuk selalu produktif. Bahkan ketika sedang beristirahat, seseorang dapat merasa bersalah karena menganggap dirinya tidak melakukan sesuatu yang berguna.
Baca Juga: Jarang Chat tapi Tetap Dekat, Kenali Low Maintenance Friendship
Media sosial juga dapat memperkuat tekanan tersebut. Melihat pencapaian orang lain setiap hari membuat seseorang mudah membandingkan kehidupannya sendiri. Ada yang merasa harus segera mendapatkan pekerjaan, memiliki penghasilan tinggi, bepergian, atau mencapai target tertentu agar tidak tertinggal.
Dalam kondisi tersebut, soft life hadir sebagai semacam penolakan terhadap gagasan bahwa hidup harus selalu sibuk agar dianggap berhasil. Istirahat tidak lagi dipandang sebagai kemunduran, melainkan sebagai bagian dari menjaga keseimbangan hidup.
Meski begitu, menerapkan soft life bukan berarti menghindari semua bentuk tantangan. Seseorang tetap memiliki pekerjaan, tanggung jawab, dan target yang harus diselesaikan. Perbedaannya terletak pada cara menjalani semua itu tanpa menjadikan kesibukan sebagai satu-satunya ukuran nilai diri.
Baca Juga: Bukan Barang, Kenapa Pengalaman Kini Jadi Pilihan Belanja Banyak Orang?
Gaya hidup ini juga dapat memiliki bentuk yang berbeda bagi setiap orang. Bagi seseorang, hidup tenang mungkin berarti bekerja sesuai jam kerja dan tidak membawa pekerjaan ke rumah. Bagi orang lain, bisa berarti memiliki waktu untuk keluarga, mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, atau memberi ruang untuk melakukan hal-hal yang disukai. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno