Datang ke Mall, Kok Sekarang Rasanya Seperti Pergi Liburan?

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 13:08 WIB
Pusat perbelanjaan kini bertransformasi menerapkan konsep experiential retail.
Pusat perbelanjaan kini bertransformasi menerapkan konsep experiential retail.

RADARSOLO.COM – Dulu, pergi ke mal mungkin punya tujuan sederhana: membeli pakaian, mencari kebutuhan rumah, makan, kemudian pulang. Namun, coba perhatikan mal-mal sekarang.

Ada area olahraga, wahana bermain, bioskop, ruang komunitas, pameran, pop-up store, hingga berbagai acara yang membuat pengunjung datang meski tidak sedang membutuhkan barang tertentu.

Mal perlahan berubah menjadi lebih dari sekadar tempat berbelanja. Pengunjung datang untuk makan, bermain, berolahraga, bertemu teman, mencari hiburan, bahkan sekadar menghabiskan waktu.

Baca Juga: Dari Balap Karung ke Lip Sync Battle, Lomba 17 Agustus yang Makin Bervariasi

Perubahan tersebut sejalan dengan perkembangan konsep experiential retail, ketika pusat perbelanjaan tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga pengalaman yang membuat orang ingin datang dan tinggal lebih lama.

Belanja Bukan Lagi Alasan Utama

Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu pendorongnya. Ketika membeli barang dapat dilakukan dengan mudah melalui platform daring, mal perlu menawarkan alasan lain agar masyarakat tetap mau datang secara langsung.

CBRE Indonesia dalam laporan mengenai transformasi ritel Jakarta pada 2026 menyebut pusat perbelanjaan semakin bergeser dari model berbasis transaksi menuju ekosistem yang berorientasi pada pengalaman. Mal mulai dirancang sebagai destinasi gaya hidup dengan desain yang menarik, program kegiatan, serta ruang yang mendorong interaksi sosial.

Baca Juga: Kenalan dengan Micro Joy, Kebahagiaan Kecil yang Sering Kita Lewatkan

Artinya, seseorang tidak harus datang ke mal karena ingin membeli sesuatu.

Bisa saja tujuannya hanya ngopi, olahraga, menonton film, bertemu teman, atau mencari tempat untuk menghabiskan akhir pekan.

Dari Belanja ke Bermain

Perubahan tersebut juga terlihat dari jenis fasilitas yang ditawarkan.

Pada 2026, sejumlah pusat perbelanjaan mulai menggabungkan area kuliner dan retail dengan fasilitas olahraga serta hiburan. Summarecon Mall Bekasi Phase 2, misalnya, mengusung konsep yang mengintegrasikan aktivitas belanja, kuliner, dan gaya hidup aktif. Fasilitasnya bahkan mencakup pusat olahraga dan wellness di area rooftop.

Sementara itu, Lippo Malls Indonesia juga secara terbuka mengembangkan konsep mal berbasis pengalaman. Program mereka mencakup meet and greet, permainan edukatif, workshop, pertunjukan, hingga instalasi tematik yang membuat pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan acara.

Mal pun semakin menyerupai ruang rekreasi dalam ruangan.

Pengunjung Ingin Punya Alasan untuk Tinggal Lebih Lama

Bagi pengelola mal, membuat pengunjung betah juga memiliki nilai bisnis.

Semakin lama seseorang berada di dalam mal, semakin besar pula kemungkinan mereka melakukan aktivitas lain. Setelah olahraga, misalnya, pengunjung bisa makan. Setelah menonton film, mereka mungkin nongkrong di kafe. Setelah menghadiri acara komunitas, mereka bisa berbelanja atau sekadar berjalan-jalan.

Karena itu, berbagai fungsi sengaja ditempatkan dalam satu kawasan.

Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto bahkan menyebut mal ke depan perlu menjadi tempat yang nyaman untuk nongkrong, berolahraga, dan bersosialisasi, bukan hanya berbelanja.

Akhirnya, Mal Jadi Tempat Tujuan

Perubahan ini menjelaskan mengapa pergi ke mal sekarang kadang terasa seperti agenda rekreasi.

Kita bisa datang tanpa daftar belanja, lalu menghabiskan beberapa jam untuk makan, bermain, menonton, berfoto, atau mengikuti kegiatan tertentu. Bahkan, ada mal yang secara khusus memosisikan diri sebagai lifestyle destination, bukan sekadar pusat perdagangan.

Jadi, kalau akhir pekan ini ada yang mengajak, “Yuk ke mal,” jangan buru-buru mengira akan diajak belanja.

Bisa jadi yang dimaksud bukan membeli sesuatu, melainkan mencari sesuatu untuk dilakukan. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa pengunjung belanja pengalaman mal