“Woles”, “Santuy”, atau “Santai”? Kenapa Kata Slang Cepat Sekali Pensiun?

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 15:45 WIB
Perkembangan media sosial mempercepat penyebaran kata gaul hingga popularitasnya cepat memudar ketika dipakai secara masif.
Perkembangan media sosial mempercepat penyebaran kata gaul hingga popularitasnya cepat memudar ketika dipakai secara masif.

RADARSOLO.COM – Pernahkah kita menyadari bahwa kata-kata yang dulu terasa sangat populer kini justru terdengar seperti bahasa dari zaman lain? “Woles”, “santuy”, “alay”, “kepo”, hingga “bokap” pernah begitu akrab dalam percakapan anak muda. Kini, sebagian masih digunakan, tetapi sebagian lainnya mulai jarang terdengar.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bahasa slang memiliki siklus hidup. Sebuah kata dapat muncul, digunakan kelompok tertentu, menyebar luas, menjadi tren, kemudian perlahan kehilangan popularitas ketika muncul istilah baru.

Penelitian mengenai variasi bahasa slang di media sosial juga menemukan bahwa istilah gaul berkembang sangat dinamis.

Baca Juga: Remake, Reboot, Reimagining, Sequel, Prequel, dan Spinoff, Apa Bedanya?

Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X membuat kosakata baru lebih cepat menyebar dibandingkan era ketika komunikasi anak muda masih lebih banyak berlangsung secara langsung atau melalui pesan singkat. 

Muncul dari Kelompok Tertentu

Slang biasanya tidak muncul begitu saja. Kata atau ungkapan tertentu dapat berkembang dalam kelompok sosial, komunitas, wilayah, atau lingkungan pergaulan sebelum akhirnya digunakan lebih luas.

Misalnya, penelitian terhadap remaja di Kabupaten Brebes menemukan berbagai bentuk slang seperti “santuy”, “woles”, “kepo”, “nongki”, “kudet”, hingga “gaskeun” dalam komunikasi sehari-hari.

Baca Juga: Duduk di Upacara Istana Tak Bisa Sembarangan, Ada Aturan Protokol

Ketika istilah tersebut mulai digunakan semakin banyak orang, slang kemudian kehilangan sifat eksklusifnya. Kata yang awalnya menjadi penanda kelompok tertentu akhirnya diketahui hampir semua pengguna media sosial.

Di titik inilah sebuah istilah bisa mulai terasa biasa.

Ketika Semua Orang Sudah Menggunakannya

Kecepatan penyebaran menjadi salah satu hal yang membedakan slang masa kini dengan slang pada generasi sebelumnya.

Penelitian tentang perkembangan bahasa gaul dari generasi Y hingga Z menunjukkan bahwa slang Gen Z berkembang lebih cepat karena media sosial memungkinkan kosakata baru menyebar melalui video, meme, dan tren internet. Sementara itu, slang generasi sebelumnya cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk menyebar.

Akibatnya, sebuah kata dapat terasa baru hari ini, tetapi beberapa waktu kemudian sudah dianggap biasa atau bahkan ketinggalan zaman.

Ketika sebuah istilah sudah terlalu umum, muncul pula kebutuhan untuk menggunakan ungkapan lain agar komunikasi kembali terasa segar atau menunjukkan identitas kelompok.

Bukan Berarti Katanya Hilang Selamanya

Meski sebuah slang sudah jarang digunakan, bukan berarti kata tersebut benar-benar lenyap dari bahasa.

Beberapa istilah dapat kembali muncul dalam konteks tertentu, terutama ketika generasi yang pernah menggunakannya mengalami nostalgia. Ada pula kata yang akhirnya masuk ke penggunaan sehari-hari dan bertahan lebih lama karena sudah dikenal luas.

Artinya, “pensiun” dalam slang bukan berarti kata tersebut dihapus dari bahasa. Popularitasnya saja yang menurun.

Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa bahasa tidak pernah benar-benar diam. Penelitian mengenai slang di media sosial menunjukkan pengguna terus menciptakan bentuk baru melalui singkatan, pemendekan kata, permainan bunyi, hingga pengaruh bahasa asing.

Jadi, kalau hari ini kita masih mendengar “woles” atau “santuy”, mungkin bagi sebagian orang kata tersebut masih terasa biasa saja. Namun, bagi generasi berikutnya, bisa jadi istilah itu justru terdengar seperti bahasa gaul dari masa lalu.

Sebab, dalam dunia bahasa yang bergerak secepat media sosial, kata populer pun punya masa kejayaannya sendiri. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
Slang kata inayah choirunisa media sosial bahasa