RADARSOLO.COM - Pernah merasa suasana hati membaik setelah menyantap cokelat, es krim, atau makanan manis lainnya? Sensasi tersebut bukan sepenuhnya kebetulan. Makanan manis dapat memberikan rasa nyaman dalam waktu singkat karena berkaitan dengan sistem penghargaan di otak.
Saat seseorang mengonsumsi makanan yang terasa nikmat, otak dapat melepaskan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berperan dalam rasa senang, motivasi, dan sistem penghargaan. Sensasi menyenangkan tersebut dapat membuat seseorang ingin kembali mengonsumsi makanan serupa.
Selain itu, karbohidrat dalam makanan dapat memengaruhi ketersediaan triptofan, asam amino yang digunakan tubuh untuk membentuk serotonin. Serotonin sendiri berkaitan dengan pengaturan suasana hati, tidur, dan nafsu makan.
Baca Juga: Sudah Kenyang, Kok Masih Muat Dessert? Ternyata Otak Kita Punya Jawabannya
Makanan manis juga mengandung gula yang dapat dengan cepat diubah menjadi glukosa. Glukosa menjadi salah satu sumber energi utama bagi otak. Ketika tubuh membutuhkan energi, asupan karbohidrat dapat memberikan tambahan energi yang relatif cepat.
Namun, efek tersebut tidak selalu bertahan lama. Konsumsi makanan tinggi gula dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat dengan cepat. Setelah itu, kadar gula darah dapat kembali menurun sehingga sebagian orang merasa lelah atau kembali kurang berenergi.
Hal tersebut membuat makanan manis bukan solusi utama untuk memperbaiki suasana hati. Jika sedang merasa stres atau lelah, tidur yang cukup, aktivitas fisik, mengonsumsi makanan bergizi, serta melakukan aktivitas yang menyenangkan tetap menjadi pilihan yang lebih baik untuk menjaga kondisi tubuh dan emosi.
Baca Juga: Cek Promo 17 Agustus 2026 Makanan dan Minuman: Daftar Diskon serta Syaratnya
Jadi, tidak heran jika makanan manis terasa seperti “mood booster” sesaat. Ada proses biologis yang membuat makanan terasa menyenangkan, tetapi efeknya cenderung sementara. Menikmatinya sesekali tentu berbeda dengan menjadikannya sebagai cara utama untuk mengatasi stres atau suasana hati yang buruk. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno