RADARSOLO.COM – Pernah melihat makanan di media sosial lalu tertarik mencobanya bukan karena tahu rasanya, melainkan karena bentuknya terlihat unik? Es krim dengan tampilan tidak biasa, kue berbentuk karakter, minuman dengan warna mencolok, hingga makanan yang disajikan dalam wadah unik kini kerap menjadi bahan unggahan di media sosial.
Di tengah budaya berbagi foto dan video pendek, tampilan makanan semakin menjadi bagian dari pengalaman menyantap. Makanan tidak hanya dituntut enak, tetapi juga memiliki daya tarik visual yang membuat orang ingin memotret dan membagikannya.
Baca Juga: Kapan Kuliner Nusantara Bisa Punya Emoji Sendiri di Keyboard?
Fenomena tersebut ikut mengubah cara pelaku usaha makanan dan minuman memperkenalkan produknya. Sebuah menu dapat dirancang dengan bentuk, warna, kemasan, atau penyajian yang mudah dikenali ketika muncul di layar ponsel.
Tampilan Menjadi Bagian dari Produk
Daya tarik visual sebenarnya bukan hal baru dalam industri kuliner. Namun, media sosial membuat fungsi tampilan makanan semakin penting.
Foto makanan yang menarik dapat menjadi bentuk promosi tidak langsung ketika pelanggan mengunggahnya ke media sosial. Satu unggahan kemudian dapat dilihat oleh pengikutnya dan mendorong orang lain mencari tahu tempat atau produk yang ditampilkan.
Penelitian mengenai pemasaran makanan di media sosial juga menunjukkan bahwa daya tarik visual berpengaruh terhadap keinginan konsumen untuk berinteraksi dan membagikan konten makanan.
Baca Juga: Emoji Pertama di Dunia Bentuknya Seperti Apa? Ternyata Sederhana Banget
Visual yang menarik dapat meningkatkan perhatian pengguna sebelum mereka mengetahui informasi lain mengenai produk.
Makanan Ikut Dirancang untuk Kamera
Perubahan tersebut membuat sejumlah pelaku usaha memperhatikan bagaimana produk terlihat ketika difoto.
Warna yang kontras, lapisan makanan yang terlihat jelas, bentuk yang tidak biasa, hingga kemasan yang memiliki karakter dapat menjadi pertimbangan ketika membuat menu baru.
Bahkan, konsep food styling yang sebelumnya lebih banyak digunakan dalam fotografi profesional kini ikut terasa dalam pengalaman makan sehari-hari. Konsumen sendiri menjadi bagian dari proses tersebut karena mereka mengambil foto dan video menggunakan ponsel sebelum menyantap makanan.
Dalam konteks ini, pelanggan bukan hanya konsumen, tetapi juga dapat menjadi pembuat konten sekaligus saluran promosi.
Viral Tidak Selalu Berarti Akan Bertahan
Meski tampilan dapat membantu sebuah makanan menarik perhatian, visual saja belum tentu membuat konsumen kembali membeli.
Rasa, harga, porsi, kualitas bahan, pelayanan, dan pengalaman keseluruhan tetap menentukan apakah sebuah produk mampu bertahan setelah tren berakhir.
Masalahnya, media sosial bergerak sangat cepat. Makanan yang hari ini memenuhi linimasa dapat dengan mudah digantikan oleh menu baru pada minggu berikutnya.
Karena itu, tampilan yang menarik dapat menjadi pintu masuk, tetapi bukan satu-satunya alasan konsumen bertahan.
Pada akhirnya, makanan di era media sosial menghadapi standar yang sedikit berbeda. Sebelum seseorang mengatakan “enak”, ada kemungkinan ia lebih dulu mengatakan “bagus banget kalau difoto.”
Bagi pelaku usaha kuliner, tantangannya kemudian bukan sekadar menciptakan makanan yang lezat, tetapi menemukan cara agar rasa dan tampilan sama-sama punya alasan untuk membuat pelanggan datang kembali. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno