RADARSOLO.COM – Pernah menemukan istilah “orang have”, “orang clear”, atau “orang aring” di media sosial? Sekilas, istilah tersebut terdengar seperti gabungan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang tidak biasa.
Namun, justru keanehan itulah yang membuatnya menarik dan mudah menjadi bahan candaan warganet.
Sejumlah istilah tersebut ramai digunakan di media sosial, terutama Threads, sebagai bentuk permainan kata. “Orang have”, misalnya, digunakan sebagai plesetan dari “orang punya”, sedangkan “orang let go” merujuk pada orang yang sudah merelakan sesuatu.
Baca Juga: Emangnya Emoji Bisa Bohong? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ada pula “orang clear” dan “orang aring” yang digunakan dalam konteks tertentu sebagai permainan bunyi dan makna.
Fenomena ini menunjukkan satu hal menarik, bahasa gaul di internet tidak selalu lahir karena kebutuhan untuk mencari kata baru. Kadang, kata baru justru dibuat karena terdengar lucu ketika digunakan.
Sengaja Dibuat Tidak Biasa
Jika diterjemahkan secara harfiah, beberapa istilah tersebut memang tidak memiliki struktur bahasa Inggris yang tepat. Namun, tujuan penggunaannya memang bukan untuk membuat kalimat bahasa Inggris yang benar.
Ketidaklaziman tersebut justru menjadi bagian dari lelucon.
Kata bahasa Inggris ditempatkan dalam pola bahasa Indonesia sehingga menghasilkan ungkapan yang terdengar janggal.
Baca Juga: 40 Tahun Berselang, Megawati Berubah dari Pembawa Baki Menjadi Inspektur Upacara
Misalnya, istilah “orang have” secara struktur bukanlah bentuk bahasa Inggris yang lazim untuk menyebut seseorang yang memiliki sesuatu.
Namun, ketika ditempatkan setelah kata “orang”, pengguna media sosial dapat langsung menangkap permainan bunyinya dengan kata “punya”.
Artinya, “kesalahan” dalam struktur justru menjadi sumber humor.
Dari Satu Istilah Lahir Banyak Variasi
Media sosial kemudian membuat permainan bahasa seperti ini berkembang dengan cepat.
Ketika satu istilah mulai dikenal, pengguna lain dapat membuat variasinya sendiri. Permainan tidak lagi terbatas pada satu kata, tetapi dapat berkembang menjadi rangkaian kata atau ungkapan baru yang mengikuti pola serupa.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa pengguna media sosial tidak hanya menjadi konsumen bahasa.
Mereka juga memproduksi dan memodifikasi bahasa secara terus-menerus.
Kecepatan tersebut semakin terlihat karena media sosial memungkinkan sebuah istilah ditemukan, ditiru, dimodifikasi, kemudian digunakan kembali oleh orang lain dalam waktu singkat.
Sebuah kata yang hari ini terasa asing bisa menjadi bahan candaan dalam sebuah komunitas, lalu beberapa hari kemudian sudah dikenali oleh lebih banyak pengguna.
Menjadi Semacam “Kode” di Internet
Bahasa slang juga dapat berfungsi sebagai penanda bahwa seseorang mengikuti percakapan atau tren tertentu.
Orang yang memahami konteks “orang have” atau “orang aring” akan lebih mudah menangkap lelucon yang sedang dibicarakan. Sebaliknya, orang yang belum mengetahui trennya mungkin justru bertanya-tanya apa maksud istilah tersebut.
Di sinilah slang internet dapat menjadi semacam inside joke. Pengguna tidak hanya bertukar informasi, tetapi juga membangun rasa kebersamaan melalui kata-kata yang dipahami bersama.
Hal serupa sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Bahasa gaul dari berbagai generasi juga memiliki istilah yang hanya populer dalam lingkungan tertentu.
Bedanya, media sosial membuat proses penciptaan dan penyebarannya berlangsung jauh lebih cepat.
Apakah Bahasa Indonesia Jadi Rusak?
Kemunculan istilah seperti “orang have” tidak serta-merta berarti bahasa Indonesia sedang rusak. Istilah tersebut digunakan dalam konteks informal dan bersifat sebagai permainan bahasa.
Bahasa memiliki banyak ragam dan fungsi. Bahasa yang digunakan dalam dokumen resmi tentu berbeda dengan bahasa dalam percakapan bersama teman atau unggahan media sosial.
Karena itu, fenomena ini lebih menarik jika dilihat sebagai kreativitas berbahasa di ruang digital.
Gen Z tidak selalu menciptakan istilah baru karena ingin menemukan kosakata yang lebih efektif. Kadang, mereka hanya ingin membuat sesuatu yang terdengar aneh, lucu, dan mudah dikenali.
Dan ketika banyak orang ikut memakainya, bahasa yang awalnya terasa “ngaco” justru berubah menjadi kode bersama di media sosial. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno