RADARSOLO.COM – Membuka media sosial untuk sekadar melihat satu video bisa berakhir dengan berjam-jam scrolling. Satu unggahan membawa pengguna ke video berikutnya, mulai dari gosip, konflik, berita buruk, hingga berbagai perdebatan yang tidak ada habisnya.
Namun, di tengah linimasa yang sering terasa melelahkan, muncul tren dengan arah yang justru berlawanan.
Di TikTok dan Instagram Reels, semakin banyak konten yang berisi afirmasi, jurnal harian, rutinitas pagi, self-growth, hingga cerita sederhana tentang berusaha menjalani hidup dengan lebih baik.
Fenomena ini dikenal sebagai HopeTok.
Baca Juga: “Woles”, “Santuy”, atau “Santai”? Kenapa Kata Slang Cepat Sekali Pensiun?
Berbeda dengan sejumlah tren internet yang mengangkat sikap apatis atau pelarian dari realitas, HopeTok menawarkan suasana yang lebih optimistis.
Kontennya tidak selalu berupa nasihat besar. Ada pula video tentang membuat jurnal, merapikan kamar, menikmati pagi, menemukan hal kecil yang disyukuri, atau membagikan proses seseorang melewati masa sulit.
Ketika Media Sosial Mulai Terasa Melelahkan
Kemunculan tren ini tidak bisa dilepaskan dari pengalaman pengguna dalam mengonsumsi media sosial.
Baca Juga: Remake, Reboot, Reimagining, Sequel, Prequel, dan Spinoff, Apa Bedanya?
Setiap hari, pengguna dapat menerima begitu banyak informasi dalam waktu singkat. Berita buruk, konflik, komentar negatif, hingga konten yang sengaja dibuat kontroversial dapat muncul secara berurutan di layar.
Akibatnya, sebagian pengguna mulai lebih sadar terhadap apa yang mereka biarkan memenuhi linimasa.
Dalam laporan Wolipop, HopeTok disebut sebagai salah satu respons generasi muda terhadap ketidakpastian dan kelelahan emosional di ruang digital. Kontennya menjadi semacam ruang untuk mencari suasana yang lebih lembut setelah berhadapan dengan berbagai informasi yang menguras perhatian.
Fenomena ini juga sejalan dengan penelitian mengenai penggunaan TikTok dan kesehatan mental.
Sebuah penelitian terhadap pengguna Gen Z menemukan bahwa jenis konten yang dikonsumsi dapat berkaitan dengan kondisi psikologis pengguna, meskipun intensitas penggunaan media sosial tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Bukan Berarti Harus Selalu Berpikir Positif
Meski begitu, HopeTok tidak seharusnya dipahami sebagai ajakan untuk selalu berpikir positif atau mengabaikan masalah.
Konten seperti “semuanya akan baik-baik saja” memang dapat memberikan dorongan bagi sebagian orang. Namun, menghadapi persoalan nyata tetap membutuhkan cara yang lebih konkret.
Baca Juga: Film Sudah Tamat, Teori Belum: Ketika Penonton Memburu Easter Egg hingga Bongkar Cerita Tersembunyi
Konten positif juga tidak dapat menggantikan bantuan profesional ketika seseorang mengalami masalah kesehatan mental yang membutuhkan penanganan.
Karena itu, menarik jika HopeTok dilihat bukan sebagai usaha melarikan diri dari kenyataan, melainkan sebagai perubahan cara seseorang memilih apa yang ingin dikonsumsi di internet.
Menariknya, algoritma media sosial juga berperan dalam proses tersebut. Ketika seseorang berulang kali menonton, menyukai, atau menyimpan konten tertentu, platform dapat semakin sering menampilkan konten dengan karakter serupa. Dengan begitu, kebiasaan pengguna ikut membentuk suasana linimasanya sendiri.
Pada akhirnya, HopeTok menunjukkan sesuatu yang cukup sederhana: di tengah internet yang tidak pernah berhenti berbicara, sebagian orang mulai mencari konten yang membuat mereka bisa berhenti sejenak.
Bukan untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, melainkan untuk mengingatkan bahwa di antara berita buruk dan berbagai tekanan yang memenuhi layar, masih ada ruang untuk menemukan sesuatu yang membuat hari terasa sedikit lebih ringan. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno