RADARSOLO.COM – Pernah sedang asyik mengobrol, tetapi tiba-tiba kehabisan bahan pembicaraan? Suasana mendadak hening dan terasa canggung. Kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi, terutama ketika berbicara dengan orang baru atau seseorang yang ingin kita buat terkesan.
Salah satu penyebabnya adalah kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana diri kita terlihat di mata orang lain. Kita mulai memikirkan apakah ucapan terdengar menarik, apakah lawan bicara bosan, atau apakah respons yang diberikan terasa aneh.
Dalam psikologi, kecenderungan merasa diri terlalu diperhatikan dikenal sebagai spotlight effect. Kita merasa orang lain memperhatikan setiap kata dan gerak-gerik kita, padahal mereka kemungkinan juga sibuk memikirkan dirinya sendiri.
Baca Juga: Mengenal Propinquity Effect, Kenapa Kita Bisa Dekat dengan Orang yang Sering Ditemui?
Kecemasan tersebut kemudian membuat kita semakin sulit berpikir. Banyak hal sebenarnya muncul di kepala, tetapi langsung disensor dengan pikiran seperti, "Ah, ini enggak penting" atau "Nanti malah aneh." Akhirnya, tidak ada satu pun yang diucapkan dan obrolan pun berhenti.
Pertanyaan yang terlalu tertutup juga bisa menjadi penyebab. Misalnya, daripada bertanya, "Kamu suka film itu?", coba tanyakan, "Bagian mana yang paling kamu suka dari film itu?" Pertanyaan terbuka memberi ruang bagi lawan bicara untuk bercerita lebih banyak.
Kita juga bisa mengambil kata kunci dari cerita lawan bicara. Jika mereka mengatakan, "Kemarin aku hunting foto di Kota Tua," kita bisa menanggapi, "Kamu memang suka fotografi?" Dari satu kata saja, pembicaraan dapat berkembang ke topik lain.
Baca Juga: Mengenal Halo Effect, Alasan Kita Mudah Terpikat pada Pandangan Pertama
Jika sudah terlanjur blank, tidak perlu panik. Kita bisa memanfaatkan lingkungan sekitar, meminta pendapat atau rekomendasi, bahkan mengakui secara santai bahwa sedang kehabisan bahan obrolan.
Keheningan beberapa detik juga sebenarnya bukan masalah. Percakapan yang nyaman tidak harus selalu dipenuhi kata-kata.
Jadi, agar tidak mudah canggung, kita tidak perlu sibuk menyiapkan topik sebanyak mungkin. Cukup belajar mendengarkan, menangkap hal-hal kecil dari cerita lawan bicara, dan tidak terlalu takut jika percakapan sesekali hening. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno