RADARSOLO.COM – Video dengan kamera bergoyang, suara latar yang ikut terekam, potongan gambar cepat, hingga ekspresi yang terlihat spontan mungkin dulu dianggap sebagai tanda produksi yang kurang profesional.
Namun, di media sosial, terutama TikTok, gaya seperti itu justru mulai memiliki daya tarik tersendiri.
Konten yang terlihat mentah dan tidak terlalu dipoles menjadi bagian dari perubahan selera penonton terhadap video pendek. Alih-alih menghadirkan gambar yang sempurna seperti iklan, sejumlah kreator justru menampilkan karakter, kebiasaan, dan situasi sehari-hari dengan cara yang lebih apa adanya.
Baca Juga: 10 Tahun “Mercy” Shawn Mendes, Masih Ingat Lagu Galau Ini?
Fenomena tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketertarikan pengguna terhadap konten yang terasa natural dan autentik.
Bukan berarti kualitas produksi tidak lagi penting. Persoalannya, penonton kini semakin mudah membedakan video yang terasa seperti pengalaman nyata dengan konten yang terlalu dibuat-buat.
Kamera Goyang Bukan Berarti Gagal
Salah satu bentuknya terlihat dari video dengan gaya cut-to-cut cepat. Adegan berpindah dengan cepat dari satu situasi ke situasi lain tanpa terlalu banyak transisi atau jeda.
Namun, yang membuatnya menarik bukan hanya kecepatannya.
Kreator biasanya membangun karakter yang sangat spesifik. Misalnya, seseorang yang menggambarkan kesehariannya sebagai introvert yang dipaksa keluar rumah, karakter Gen Z dengan gaya berjualan yang tidak biasa, atau tokoh fiktif yang memiliki kebiasaan tertentu.
Baca Juga: “Hijau Kaya” atau “Hijau Miskin” Bukan Selalu Soal Warna
Karakter tersebut kemudian menjadi benang merah dari setiap video.
Dengan begitu, penonton tidak hanya menonton sebuah kejadian. Mereka menunggu “kelanjutan hidup” karakter yang sudah mereka kenal.
Hal yang sama dapat ditemukan dalam format mini drama. Video mungkin sengaja dibuat dengan kamera yang bergerak, pencahayaan seadanya, atau suara yang tidak sepenuhnya bersih.
Anehnya, ketidaksempurnaan tersebut justru dapat membuat cerita terasa lebih dekat.
Penonton seolah sedang melihat seseorang membuat video dari kehidupan sehari-hari, bukan menyaksikan produksi besar yang sudah melalui banyak tahap penyuntingan.
Mengapa yang Tidak Sempurna Terasa Lebih Nyata?
Salah satu alasannya adalah kedekatan.
Baca Juga: Clean Eating Lagi Tren, Ternyata Indonesia Sudah Punya Versi Tradisionalnya
Ketika seseorang melihat video yang terlalu sempurna, mereka tahu bahwa ada proses produksi di baliknya. Sementara video yang sedikit berantakan dapat menciptakan kesan bahwa kreator sedang berbicara langsung kepada penonton.
Karena itu, suara kendaraan yang bocor, gambar yang sedikit goyang, ekspresi spontan, atau kesalahan kecil tidak selalu harus dihilangkan.
Dalam konteks tertentu, justru elemen tersebut menjadi bagian dari karakter konten.
Namun, raw content bukan berarti asal mengunggah video.
Konten tetap membutuhkan cerita yang jelas. Kreator perlu mengetahui siapa karakter yang ditampilkan, situasi apa yang ingin dibangun, serta alasan penonton harus mengikuti cerita tersebut.
Jadi, kamera yang goyang bukan otomatis membuat sebuah video menarik.
Yang membuatnya menarik adalah ketika ketidaksempurnaan tersebut terasa jujur dan memiliki karakter.
Dari Estetika Sempurna ke Karakter yang Diingat
Perubahan ini juga menunjukkan bahwa persaingan di media sosial tidak selalu dimenangkan oleh video dengan produksi paling mahal.
Kreator dengan kamera sederhana tetap dapat menarik perhatian ketika memiliki karakter yang kuat dan cerita yang mudah dikenali.
Penonton mungkin lupa bagaimana kualitas gambarnya.
Namun, mereka bisa mengingat “oh, ini yang selalu melakukan itu”.
Pada akhirnya, tren konten yang terlihat mentah bukan sekadar soal membuat video seadanya. Ini merupakan perubahan cara kreator membangun hubungan dengan penonton.
Di tengah banjir konten yang semakin rapi dan seragam, sesuatu yang terasa manusiawi justru bisa menjadi pembeda. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno