RADARSOLO.COM - Maulid Nabi menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus kembali mengingat keteladanan beliau. Namun, peringatan Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada acara seremonial, seperti pengajian atau pembacaan selawat. Nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berada di ruang digital.
Perkembangan media sosial membuat masyarakat semakin mudah berkomunikasi dan membagikan informasi. Hanya dengan satu unggahan, sebuah informasi dapat menyebar kepada banyak orang dalam waktu singkat. Di sisi lain, kemudahan tersebut juga dapat menjadi masalah ketika digunakan untuk menyebarkan kabar bohong, ujaran kebencian, atau komentar yang menyakiti orang lain.
Baca Juga: 50 Contoh Ucapan Maulid Nabi 2026 untuk Media Sosial, Singkat dan Penuh Makna
Di tengah kondisi tersebut, sifat Rasulullah yang dikenal jujur, amanah, santun, dan menghargai sesama masih sangat relevan. Meneladani Rasulullah di era digital dapat dimulai dengan membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Tidak semua informasi yang muncul di media sosial benar, sehingga pengguna perlu lebih bijak sebelum ikut menyebarkannya.
Menjaga ucapan juga menjadi bentuk keteladanan yang penting. Kebebasan berpendapat di media sosial bukan berarti seseorang dapat mengatakan apa saja tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Kritik tetap dapat disampaikan, tetapi sebaiknya menggunakan bahasa yang santun dan tidak merendahkan.
Selain itu, masyarakat dapat menggunakan media sosial untuk menyebarkan hal-hal yang bermanfaat. Konten edukasi, informasi positif, karya kreatif, maupun pesan yang membangun dapat menjadi cara sederhana untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Maulid Nabi juga dapat menjadi pengingat agar masyarakat tidak hanya sibuk memperingati Rasulullah, tetapi lupa menerapkan ajarannya. Keteladanan tersebut justru dapat terlihat dari kebiasaan sederhana, mulai dari cara berbicara, memperlakukan orang lain, hingga bersikap ketika berbeda pendapat. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno