Di Tengah Era Video Pendek, Substack Justru Mengajak Orang Membaca Tulisan Panjang

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:43 WIB
Substack menghidupkan kembali budaya membaca tulisan panjang via newsletter di tengah gempuran video pendek.
Substack menghidupkan kembali budaya membaca tulisan panjang via newsletter di tengah gempuran video pendek.

RADARSOLO.COM – Di tengah kebiasaan menggulir video pendek tanpa henti, muncul sebuah fenomena yang terasa sedikit bertolak belakang. Orang-orang justru kembali membaca tulisan panjang melalui newsletter. Salah satu platform yang ikut mendorong tren tersebut adalah Substack.

Sekilas, Substack memang terlihat seperti tempat untuk menulis dan menerbitkan artikel. Namun, cara kerjanya berbeda dari media sosial yang selama ini digunakan untuk membangun audiens.

Di Substack, penulis dapat menerbitkan tulisan, podcast, video, hingga konten lainnya secara langsung kepada pembaca melalui sistem berlangganan.

Lantas, mengapa platform yang identik dengan tulisan panjang ini bisa menarik perhatian ketika internet justru semakin menyukai konten singkat?

Baca Juga: Kenalan dengan Micro Joy, Kebahagiaan Kecil yang Sering Kita Lewatkan

Bukan Sekadar Mengejar Algoritma

Di media sosial, keberhasilan sebuah konten sering kali sangat bergantung pada algoritma. Sebuah tulisan atau video dapat memperoleh ribuan penonton jika masuk ke rekomendasi, tetapi juga bisa tenggelam hanya dalam beberapa jam ketika tidak mendapatkan cukup interaksi.

Substack menawarkan pola hubungan yang berbeda. Pembaca dapat berlangganan newsletter dari penulis tertentu dan menerima tulisan mereka secara langsung melalui email. Dengan begitu, hubungan antara penulis dan pembaca tidak sepenuhnya bergantung pada algoritma feed.

Hal tersebut membuat Substack terasa seperti kembali ke era blog pribadi, tetapi dengan sistem yang lebih terintegrasi. Penulis memiliki ruang untuk membangun komunitas pembaca sendiri, sementara pembaca dapat memilih informasi yang memang ingin mereka ikuti.

Baca Juga: Mengenal Lucky Girl Syndrome, Tren yang Disebut Bisa Mengubah Cara Pandang Hidup

Dari Konten Viral ke Pembaca yang Loyal

Perbedaan lainnya terletak pada cara mengukur keberhasilan.

Di media sosial, angka likes, tayangan, komentar, dan jumlah pengikut sering menjadi ukuran utama. Sementara itu, pada newsletter, seseorang mungkin tidak memiliki jutaan pembaca, tetapi memiliki ribuan orang yang sengaja memasukkan alamat emailnya untuk menerima tulisan secara rutin.

Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran dalam ekonomi kreator. Tidak semua kreator harus menjadi viral untuk menghasilkan sesuatu dari karyanya. Mereka dapat membangun audiens yang lebih kecil, tetapi lebih loyal dan bersedia membayar untuk konten tertentu.

Kenapa Orang Mau Membaca Panjang Lagi?

Di sinilah fenomenanya menjadi menarik.

Kita memang hidup dalam budaya konten cepat. Video berdurasi puluhan detik dapat menyampaikan informasi, hiburan, bahkan cerita dalam waktu singkat. Namun, kecepatan tidak selalu berarti kedalaman.

Ada topik yang membutuhkan penjelasan panjang, pengalaman personal, analisis, atau sudut pandang yang tidak bisa diselesaikan dalam satu video pendek.

Substack memberikan ruang untuk hal tersebut. Penulis dapat mengembangkan gagasan tanpa harus memikirkan bagaimana sebuah tulisan harus dipadatkan menjadi beberapa kalimat agar cocok dengan karakter feed.

Substack dan Kembalinya Internet yang Lebih Personal

Fenomena Substack sebenarnya menunjukkan sesuatu yang lebih besar mengenai perkembangan internet.

Setelah bertahun-tahun internet didominasi platform yang mengejar perhatian sebanyak mungkin, sebagian pengguna mulai mencari ruang yang lebih personal dan terkurasi. Mereka tidak selalu ingin melihat apa yang sedang viral. Mereka ingin membaca sesuatu dari orang tertentu yang memang mereka percaya atau sukai.

Mungkin inilah alasan tulisan panjang belum benar-benar mati. Ketika internet semakin cepat, sebagian orang justru mulai mencari tempat untuk membaca dengan lebih pelan. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa substack penulis membaca tulisan