RADARSOLO.COM - Setiap tanggal 27 Agustus, masyarakat di berbagai belahan dunia memperingati Hari Suit atau World Rock Paper Scissors Day.
Peringatan yang digagas oleh World Rock Paper Scissors Association (WRPSA) sejak tahun 2014 ini merayakan salah satu permainan tangan paling sederhana namun universal, yang kerap diandalkan untuk mencairkan suasana hingga mengambil keputusan adil dalam kehidupan sehari-hari.
Meski kini dikenal sebagai permainan modern, Batu-Gunting-Kertas memiliki riwayat sejarah yang membentang lebih dari 2.000 tahun.
Baca Juga: Panjat Pinang dan Hadiah di Puncak, Apa Makna di Balik Tradisi Ini?
Berdasarkan catatan dalam buku Wuzazu karya Xie Zhaozhi dari masa Dinasti Ming, permainan ini telah dimainkan sejak era Dinasti Han (206 SM – 220 M) di Tiongkok dengan nama Shoushiling. Kala itu, bentuk yang digunakan bukanlah benda mati, melainkan simbol hewan yang diwakili oleh jari tangan, yaitu ibu jari sebagai katak, telunjuk sebagai ular, dan kelingking sebagai siput.
Memasuki abad ke-17, permainan ini menyebar ke Jepang dan berevolusi dari Mushi-ken menjadi Janken pada akhir abad ke-19. Lewat adaptasi masyarakat Jepang inilah bentuk modern berbasis benda mati diperkenalkan, yaitu Guu (Batu), Choki (Gunting), dan Paa (Kertas). Seiring meningkatnya interaksi antarbangsa pada abad ke-20, Janken merambah ke dunia Barat dan dikenal dengan sebutan Rock, Paper, Scissors atau Roshambo di Amerika Serikat.
Baca Juga: Di Balik Lomba Makan Kerupuk, Ada Cerita tentang Sulitnya Pangan di Masa Perjuangan
Permainan ini kemudian juga berkembang dengan keberagaman budaya setempat. Bahkan, setiap negara memiliki tradisi dan pengucapan khasnya masing-masing. Di Indonesia, misalnya, selain mengenali variasi modern, Indonesia juga memiliki suit tradisional. Suit ini berbasis simbol jamak seperti gajah (jempol), manusia (telunjuk), dan semut (kelingking).
Kini, Batu-Gunting-Kertas masih eksis dan sering dimainkan oleh anak-anak hingga orang dewasa. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno