RADARSOLO.COM - Kalau belum makan nasi, rasanya seperti belum makan. Kebiasaan ini masih melekat kuat pada banyak masyarakat Indonesia. Padahal, Indonesia punya banyak pilihan makanan pokok lain yang tidak kalah mengenyangkan, mulai dari singkong, jagung, ubi, sagu, hingga sorgum.
Sebab itu, pemerintah kembali mendorong gerakan diversifikasi pangan. Sederhananya, masyarakat diajak untuk tidak terus bergantung pada nasi dan mulai melirik berbagai pangan lokal yang ada di sekitar.
Gerakan ini juga berkaitan dengan kampanye B2SA atau Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman yang digencarkan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Pemerintah bahkan sudah memiliki Perpres Nomor 81 Tahun 2024 yang mengatur tentang percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis potensi sumber daya lokal.
Baca Juga: Kimpul Naik Daun, Ini Umbi-Umbian Lokal Lain yang Tak Kalah Menarik
Indonesia Punya Banyak Pilihan
Setiap daerah sebenarnya punya makanan pokok andalan masing-masing. Di Maluku dan Papua, misalnya, ada sagu yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Di wilayah yang lebih kering seperti Nusa Tenggara, jagung dan sorgum bisa menjadi pilihan. Sementara di Jawa dan Sumatra, singkong, ubi jalar, talas, dan berbagai jenis umbi-umbian cukup mudah ditemukan.
Masalahnya, pangan-pangan tersebut belum selalu menjadi pilihan utama sehari-hari. Nasi masih mendominasi, sementara kebutuhan gandum untuk berbagai produk seperti mi dan roti juga masih bergantung pada impor.
Baca Juga: Kimpul Viral di TikTok, Umbi Lokal Ini Disulap Jadi Seblak hingga Arancini
Pangan Lokal Bisa Dibuat Kekinian
Mendengar kata singkong atau sagu, mungkin sebagian orang langsung membayangkan makanan tradisional. Padahal, pangan lokal sebenarnya bisa dibuat menjadi produk yang lebih kekinian.
Singkong bisa diolah menjadi tepung mocaf dan digunakan untuk membuat berbagai makanan. Sagu bisa diolah menjadi mi, sedangkan jagung dan umbi-umbian dapat dibuat menjadi beras analog yang bentuknya menyerupai nasi.
Jadi, diversifikasi pangan bukan berarti setiap hari harus makan singkong rebus atau jagung. Pangan lokal bisa dikembangkan menjadi makanan yang lebih praktis dan sesuai dengan selera masyarakat sekarang.
Mengubah Kebiasaan Tidak Semudah Itu
Meski pilihan pangan lokal sangat banyak, mengubah kebiasaan makan masyarakat tentu tidak bisa dilakukan dalam semalam.
Bagi sebagian orang, nasi sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Belum lagi produk berbahan gandum seperti mi instan yang sangat mudah ditemukan dan harganya relatif terjangkau.
Produk pangan lokal olahan juga masih menghadapi persoalan harga dan ketersediaan. Tidak semua produk mudah ditemukan di toko atau pasar, sementara beberapa di antaranya justru memiliki harga lebih tinggi dibandingkan makanan yang sudah umum dikonsumsi.
Pemerintah tidak cukup hanya mengajak masyarakat untuk mengurangi makan nasi. Pangan lokal juga perlu dibuat mudah ditemukan, harganya terjangkau, dan tampilannya menarik.
Baca Juga: Ahli Ungkap Manfaat Makan Talas Kimpul Cegah Diabetes dan Kolesterol
Bukan Berarti Harus Berhenti Makan Nasi
Diversifikasi pangan bukan berarti masyarakat dilarang makan nasi. Intinya adalah memberikan lebih banyak pilihan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada satu jenis makanan pokok.
Dengan memanfaatkan pangan lokal, Indonesia juga bisa lebih mengenal kembali kekayaan bahan makanan dari berbagai daerah. Singkong, sagu, jagung, ubi, dan sorgum tidak lagi dipandang sebagai makanan kuno, tetapi bisa menjadi bagian dari pola makan masyarakat masa kini.
Jadi, mulai sekarang, kalau sesekali makan selain nasi, tidak ada salahnya. Toh, Indonesia memang punya banyak pilihan makanan yang bisa bikin kenyang. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno