Dari Shibuya ke Media Sosial, Begini Sejarah Gyaru

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 09:08 WIB
Gyaru punya sejarah panjang sebelum akhirnya ramai diperbincangkan.
Gyaru punya sejarah panjang sebelum akhirnya ramai diperbincangkan.

RADARSOLO.COM - Sering menemukan gaya gyaru di TikTok atau Instagram? Jangan kira tren ini baru muncul beberapa tahun terakhir. Gyaru punya perjalanan yang cukup panjang dalam budaya fashion Jepang. Gaya yang identik dengan makeup bold, rambut bervolume, dan penampilan berani ini sudah berkembang sejak beberapa dekade lalu.

Istilah gyaru berasal dari kata slang bahasa Inggris gal yang berarti perempuan muda. Gaya ini mulai berkembang di Jepang sekitar 1970-an, ketika sejumlah perempuan muda mulai bereksperimen dengan fashion dan penampilan yang berbeda dari standar kecantikan pada masa itu.

Baca Juga: Polkadot Kembali Jadi Tren, Motif Jadul yang Kini Makin Kekinian

Perkembangan gyaru kemudian semakin terlihat pada 1990-an, terutama di kawasan Shibuya, Tokyo. Saat itu, gaya ini mulai menjadi bagian dari budaya anak muda dan mendapat perhatian melalui majalah fashion Jepang.

Salah satu bentuk yang populer adalah kogyaru atau kogal. Gaya ini banyak dikaitkan dengan siswi sekolah yang memodifikasi penampilan seragam mereka. Rok dibuat lebih pendek, loose socks menjadi aksesori populer, sementara rambut dan makeup dibuat lebih mencolok.

Memasuki akhir 1990-an, gyaru berkembang menjadi semakin beragam. Muncul gaya seperti ganguro, yang dikenal dengan kulit kecokelatan, rambut terang, serta makeup dengan kontras tinggi. Ada pula manba yang tampil lebih eksentrik dengan makeup sangat terang dan rambut warna-warni.

Baca Juga: Gaya Fashion Anak Muda Makin Bebas, dari Retro hingga Gender-Fluid

Di sisi lain, gyaru juga berkembang ke arah yang lebih feminin dan glamor. Hime gyaru mengambil inspirasi dari estetika seorang putri dengan renda, pita, warna pastel, dan rambut besar. Sementara itu, agejo menghadirkan kesan glamor dan dewasa.

Memasuki 2000-an, budaya gyaru semakin besar. Majalah seperti egg dan Koakuma Ageha ikut menjadi media penting yang memperkenalkan berbagai gaya gyaru kepada pembaca. Para model majalah atau gyaru models juga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan tren tersebut.

Namun, memasuki 2010-an, popularitas gyaru dalam budaya mainstream Jepang mulai mengalami perubahan. Beberapa majalah gyaru berhenti terbit atau mengalami perubahan format, sementara selera fashion anak muda juga terus bergeser.

Baca Juga: Y2K Mulai Ditinggalkan, Y3K Hadir Bawa Fashion Futuristik ala Tahun 3000

Meski begitu, gyaru nggak benar-benar hilang. Era media sosial justru membuat subkultur ini kembali menemukan ruang baru. TikTok, Instagram, dan komunitas online memungkinkan generasi baru mengenal sekaligus mengadaptasi berbagai gaya gyaru.

Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum
GYARU fashion jepang makeup sejarah