Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Menumbuhkan Empati Peserta Didik lewat Mendongeng

Damianus Bram • Kamis, 2 Februari 2023 | 04:23 WIB
Oleh Maria Yosefa Desi Hermawati, selaku Guru Kelas III SD Negeri Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman
Oleh Maria Yosefa Desi Hermawati, selaku Guru Kelas III SD Negeri Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman

Oleh Maria Yosefa Desi Hermawati, selaku Guru Kelas III SD Negeri Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman


PENDIDIKAN karakter merupakan bagian penting dalam melahirkan generasi penerus banga Indonesia. Melalui pendidikan karakter, kita mampu membangun jiwa nasionalisme dalam diri siswa. Sebagai bekal untuk menjalin dan memperkuat persatuan. Sehingga Indonesia mampu bertahan dan berkembang menjadi bangsa yang besar.


Oleh karena itu penanaman, pendidikan karakter saat ini semakin digiatkan. Selaras dengan penguatan Profil Pelajar Pancasila, dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM). Hadirnya Kurikulum Merdeka, menjadi titik tumpu untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Agar sesuai dengan perkembangan zaman saat ini.


Dalam Kurikulum Merdeka, siswa tidak hanya ditempa menjadi manusia cerdas. Namun juga mempunyai kepribadian berkarakter, sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Profil Pelajar Pancasila.


Kurikulum Merdeka menggiring guru dan para pengajar lainnya, tidak hanya mampu membawa pembelajaran di kelas menjadi efektif, bermakna, dan menyenangkan. Tetapi juga dituntut dapat menggali potensi diri siswanya, agar berkarakter baik.


Sastra merupakan salah satu sarana untuk menumbuhkan dan menanamkan karakter pada siswa. Karya sastra mengandung ajaran moral baik, yang dapat mempercantik karakter seseorang. Oleh karena itu, sastra menjadi tempat terpenting bagi pendidikan karakter. Terutama untuk menunjang keberhasilan penanaman karakter.


Fungsi sastra dalam pembelajaran di tingkat satuan pendidikan taman kanak-kanak (TK) sampai menengah, adalah mampu memperhalus budi pekerti dan mengindahkan tingkah laku manusia. Agar sesuai dengan norma yang berlaku dalam suatu bangsa. Sastra selain berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter, dapat membuat orang menjadi senang membaca, mendengar, dan menikmatinya (Setyawan et al., 2021).


Mendongeng merupakan keterampilan berbahasa lisan, untuk menyampaikan sebuah karya sastra. Melalui kegiatan mendongeng, seseorang bisa menyampaikan fakta-fakta dan pesan moral secara sederhana kepada para siswa.


Selain itu, mendongeng bertujuan merangsang imajinasi siswa secara wajar, mengembangkan penalaran dan sikap kritis, serta mengarahkan siswa agar memuliki sikap kepedulian terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa.


Sebuah Yayasan nirlaba bernama Visi Maha Karya yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan dan pendidikan, menggandeng SD Negeri Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman. Supaya peduli dengan sesama, terutama orang yang kurang beruntung secara fisik atau tunadaksa.


Melalui program One Foot One School (OFOS), mengajak para siswa SD Negeri Sariharjo untuk berdonasi melalui celengan. Menyisihkan sebagian uang saku mereka selama sebulan, untuk membantu pengadaan kaki palsu bagi tunadaksa.


Kegiatan mendongeng dan permainan tradisional menjadi media yang digunakan relawan Yayasan Visi Maha Karya. Sebagai langkah sosialisasi kepada para siswa, terkait program bantuan kaki palsu.


Kak Aris, merupakan salah seorang relawan sekaligus pendongeng yang berperan aktif menyampaikan pesan kemanusian ke sekolah-sekolah. Seluruh siswa SD Negeri Sariharjo sangat antusias mendengarkan dongeng yang dikisahkan.


Dalam dongengnya, Kak Aris mengisahkan sepasang suami-istri (pasutri) yang hidup miskin. Karena ingin menjadi kaya, datanglah mereka ke seorang nabi. Melihat ketulusan hati pasangan tersebut, Tuhan YME mengabulkan keinginan mereka untuk menjadi orang kaya.


Namun, kondisi tersebut hanya berjalan satu tahun saja. Saat nabi menanyakan kepada Tuhan YME, diketahui bahwa mereka hanya diberi kekayaan selama satu tahun. Maka sang istri berinisiatif membangun rumah dengan tujuh pintu. Ketujuh pintu tersebut digunakan untuk membantu orang miskin, anak yatim, orang yang memiliki hutang, serta musafir yang kekurangan uang.


Nabi merasa heran dan takjub melihat kegiatan amal yang dilakukan pasutri itu. Kekayaan yang sementara, tidak membuat mereka lupa untuk beramal kepada sesama. Maka Tuhan YME melimpahinya dengan rezeki terus-menerus.


Sejatinya jika kita beramal kepada orang yang membutuhkan, maka tidak akan menjadi miski. Namun semakin kaya dan selalu dicukupkan oleh Tuhan YME, untuk dapat menolong orang lain lebih banyak lagi.


Pesan moral yang dapat disimpulkan melalui dongeng ini adalah, siswa diajak menyisihkan sebagian uang saku atau rezekinye untuk membantu sesama yang membutuhkan. Terutama tunadaksa.


Uang donasi yang terkumpul akan diwujudkan menjadi kaki palsu. Sebuah harapan baru bagi para tunadaksa, untuk dapat beraktivitas. Serta melanjutkan hidup sebagaimana yang diidamkan seperti orang normal pada umumnya. (*)


Editor : Damianus Bram
#SD Negeri Sariharjo #Maria Yosefa Desi Hermawati #Mendongeng #Implementasi Kurikulum Merdeka #pendidikan karakter