Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Era Modern

Damianus Bram • Senin, 6 Februari 2023 | 04:29 WIB
Beti Dianita, S.Pd, selaku Guru SD Negeri 2 Gumul, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten.
Beti Dianita, S.Pd, selaku Guru SD Negeri 2 Gumul, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten.
Oleh Beti Dianita, S.Pd, selaku Guru SD Negeri 2 Gumul, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten

PENDIDIKAN menjadi sebuah kebutuhan bagi setiap manusia. Terlebih di era modern saat ini, pendidikan menjadi sebuah keharusan. Dengan pendidikan, manusia dapat mengikuti perkembangan zaman yang semakin canggih dan maju. Sehingga dapat meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Sederhananya, pendidikan dapat mengentaskan manusia dari jurang kebodohan.


Filososfi pendidikan di Indonesia, mengacu pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Di mana pendidikan haruslah merefleksikan dari nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.


Dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya. Demi memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.


Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik, untuk mendapatkan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi perannya di masa yang akan datang. Pendidikan sebagai bentuk bimbingan atau pertolongan yang diberikan orang dewasa (guru), untuk perkembangan siswa dalam mencapai kedewasaan.


Pendidikan karakter pada hakikatnya, adalah sebuah usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation). Sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak, bersandarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya.


Pendidikan Karakter harus selalu diajarkan, dijadikan kebiasaan, dilatih secara konsisten, kemudian menjadi karakter bagi peserta didik. Dengan demikian, siswa tidak hanya cakap dalam ilmu sains. Tetapi juga memiliki kepribadian luhur, sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.


Fungsi dasar pendidikan karakter, untuk mengembangkan potensi seseorang agar dapat menjalani kehidupannya dengan bersikap baik. Dalam lingkup pendidikan formal, pendidikan karakter di sekolah berfungsi membentuk karakter peserta didik agar menjadi pribadi berakhlak mulia, bermoral, tangguh, berperilaku baik, dan toleran.


Menruut Zubaedi dalam buku Desain Pendidikan Karakter (2012), ada tiga fungsi pendidikan karakter di sekolah. Yakni fungsi pembentukan dan pengembangan potensi, untuk penguatan dan perbaikan, serta sebagai penyaring


Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudistek) menetapkan lima karakter sebagai prioritas penguatan pelajar Indonesia. Yakni religius, nasionalis, integritas, mandiri, dan gotong royong.


Perkembangan zaman membawa dampak positif dan negatif bagi dunia pendidikan, khususnya untuk anak-anak. Keterbukaan jaringan internet, menjadi salah satu faktor munculnya masalah-masalah baru. Jika dulu kenakalan anak hanya sebatas wajar, sekarang kian tak terkontrol. Salah satunya ketergantungan gawai.


Tidak dipungkiri, pengaruh gawai dalam kehidupan sehari-hari sangat besar. Namun bagi anak-anak, gawai menjadi sebuah mainan baru yang mengasyikan. Tak jarang banyak ditemui anak-anak usia balita, sudah ketergantungan gawai. Pun demikian pelajar di Indonesia.


Di masa pandemi Covid-19, gawai jadi satu-satunya sumber dan media belajar bagi anak. Karena proses pembelajaran yang biasanya dilakukan tatap muka, diubah menjadi daring (online).


Sejatinya banyak hikmah yang dapat diambil selama proses pembelajaran daring. Salah satunya pemanfaatan teknologi sebagai penunjang pembelajaran. Namun dapak lainnya, ketergantungan siswa akan gawai semakin meningkat. Pemanfaatan gawai yang berlebihan, memicu terjadinya sikap-sikap negatif.


Antara lain rendahnya moral siswa zaman sekarang, tawuran yang masih sering terjadi, menyontek, hingga banyak kasus bullying di sekolah. Hal ini tidak telepas dari banyaknya pemberitaan yang bersifat fiktif (hoax).


Menyukseskan pendidikan berbasis karakter di Indonesia, maka perlu sinergitas antara guru dan orang tua dalam mendidik anak. Guru dan orang tua harus sama-sama berbagi tugas, untuk membentuk karakter anak.


Jangan sampai guru merajut benang, orang tua mengurainya di rumah. Artinya, guru menanamkan kebaikan di sekolah, orang tua tidak mendukung di rumah.


Peran orang tua dalam pembentukan karakter anak, mulai dari mengontrol jam belajar, memantau akademik, memerhatikan kepribadian anak, membantu mengenali diri anak, serta menjadi wadah sharing partner bagi anak.


Sebagai pendidik, tugas utama guru adalah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi masa depan anak. Selain itu, guru juga diharapkan mampu memberikan pendidikan moral dan sopan santun kepada anak. Serta menanyakan ketika anak mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar.


Guru juga harus memberikan motivasi belajar, memberikan arah kegiatan belajar, memberikan fasilitas untuk proses belajar anak, serta sebagai penengah terhadap kesulitan belajar maupun bergaul yang mungkin dihadapi anak di sekolah.


Selain perannya terhadap murid, guru juga wajib memberikan laporan perkembangan anak kepada orang tuanya. Termasuk berdiskusi dengan orang tua, jika ada masalah yang berkaitan dengan anak di sekolah. Ada baiknya, guru berkunjung ke rumah anak secara berkala. Agar tahu bagaimana perkembangan anak didiknya di rumah. (*)

Editor : Damianus Bram
#Nilai Pendidikan Karakter #Beti Dianita #Nilai Pendidikan Karakter Era Modern #SD Negeri 2 Gumul #pendidikan karakter