Oleh: Amin Fahrudin,S.Ag.*)
PENDIDIKAN merupakan aktivitas dalam mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Dengan pendidikan, akan mengubah cara berpikir lebih aktif dan praktis. Menjadikan mereka yang tidak tahu menjadi tahu, dan yang sudah tahu menjadi lebih paham.
Hal yang paling penting dalam unsur pendidikan adalah adanya seorang guru. Karena gurulah yang langsung berhadapan dengan peserta didik (siswa) untuk menstransfer ilmu pengetahuan melalui proses belajar mengajar maupun sebagai suri tauladan bagi siswanya.
Belajar adalah sebuah kegiatan dalam mengembangkan diri atau tingkah laku baik dalam aspek kognitif , psikomotorik maupun sikap. Menurut Soemanto (1995:99), belajar adalah merupakan proses dasar dari perkembangan hidup manusia.
Sebab itu, seorang guru dalam melaksanakan tugas mengajar harus pandai merencanakan dan mendesain pembelajaran. Di antaranya dengan memilih metode, serta memanfaatkan media pembelajaran dengan tepat dan terukur agar pembelajaran menjadi aktif, kreatif, menyenangkan, sehingga tujan akhir pembelajaran tercapai. Khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.
Menurut Sudjana, metode adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya belajar, (Nana Sudjana,Dasar-dasar Proses belajar Mengajar, Bandung sinar Baru Algesindo,1995).
Untuk itu, guru dituntut dapat memilih metode pembelajaran dengan tepat agar tujuan pembelajaran tercapai.
Penulis sebagai guru PAI BP kelas VIII A semester genap tahun pelajaran 2022/2023 di SMPN 2 Jatisrono, Kabupaten Wonogiri selalu melakukan inovasi pembelajaran memanfaatkan media berbasis teknologi informasi.
Seperti saat menyampaikan materi pertemuan pertama tentang “Iman Pada Rasul-Rasul Allah”, penulis menerapkan metode Small Group Work (SGW) dan memanfaatkan video pelajaran.
Alasan pemilihan metode SGW karena saat pembelajaran masih dijumpai siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pelajaran, sehingga menurunkan pengetahuan pemahaman, keterampilan maupun nilai akademiknya.
Penurunan nilai pengetahuan dan pemahaman terlihat saat guru memberikan soal pada 32 siswa kelas VIII A. Hanya sekitar 80 persen siswa menguasai dan memahami materi, sehingga nilai rata-ratanya 80, di atas KKM 72.
Sedangkan 20 persen siswa kurang aktif dan hanya mendapatkan nilai rata-rata 69 di bawah KKM.
Upaya penulis mengatasi masalah tersebut, pada pertemuan selanjutnya mengganti metode pembelajaran menggunakan metode SGW dan video pelajaran, sehingga dapat memancing aktivitas belajar dan berpikir siswa, sehingga mampu meningkatkan pengetahuan, serta nilai hasil belajarnya.
SGW adalah salah satu strategi belajar mengajar, yaitu cara mengajar di mana siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan tiga sampai lima anak.
Mereka bekerja sama dalam memecahkan masalah atau melaksanakan tugas tertentu dan berusaha mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan oleh guru. (Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, hal. 14).
Sedangkan video pelajaran yang dipakai penulis disesuaikan dengan materi pelajaran dari berbagai sumber di internet yang relevan. Ditambah tampilan-tampilan yang menarik, sehingga mudah dipelajari dan dipahami siswa.
Adapun langkah-langkah pembelajaran yaitu; pertama, guru menyiapkan video serta sarana pembelajaran. Kedua, guru membuka pelajaran, menyampaikan tujuan dan proses pembelajaran.
Berikutnya, ketiga, guru menarik perhatian siswa dengan memutar video pelajaran di kelas dan siswa memperhatikan. Keempat, guru menyampaikan poin-poin materi.
Kelima, guru mulai membagi siswa menjadi beberapa kelompok kemudian membagikan materi bahan bacaan dan menjelaskan mekanisme diskusi kelompok.
Keenam, siswa dibimbing untuk mendiskusikan tugas kelompok kemudian menuangkan poin hasil diskusinya pada selembar kertas pleno.
Selanjutnya ketujuh, perwakilan kelompok bergiliran mempresentasikan hasil diskusi, sedangkan kelompok lain memberi komentar, tanggapan atau pertanyaan.
Kedelapan, di akhir kegiatan, guru memberikan rangkuman, penguatan materi, motivasi, dan apresiasi.
Metode SGW berbantu video pelajaran mampu mengatasi masalah aktivitas maupun pemahaman siswa. Dalam metode ini, melalui langkah pembelajaran, seluruh siswa diajak selalu aktif dalam melihat, membaca, mencermati, mengamati, berpikir kritis, dan berbicara, sehingga meningkatkan daya ingat, pemahaman, pengetahuan maupun nilai hasil belajarnya.
Peningkatan pengetahuan dan nilai hasil belajar siswa dapat diketahui setelah guru memberikan soal ulangan kepada seluruh siswa kelas VIII A sejumlah 32 anak. Hasilnya, semuanya mampu menjawab dan 100 persen nilainya melampaui batas KKM dengan rata-rata 92.
Dampak positif lainnya terlihat pada karakter kedisiplinan dalam ibadah, toleransi dan tanggung jawab. (*)
*) Guru PAI BP SMPN 2 Jatisrono, Kabupaten Wonogiri
Editor : Tri Wahyu Cahyono