Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Story Telling Tingkatkan Speaking Skill dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 7 Maret 2023 | 14:00 WIB
Photo
Photo

Oleh: Sri Rejeki Wulandari, S.Pd*)


BAHASA merupakan alat untuk berkomunikasi, sekaligus media interaksi untuk berhubungan dengan lawan bicara. Dalam hal ini, Bahasa Inggris adalah bahasa internasional bahkan menjadi bahasa kedua untuk Indonesia.


Dalam profesi apapun, aktivitas berbicara menjadi faktor yang sangat penting agar dapat tercipta komunikasi yang baik dengan lawan bicara. Melihat begitu pentingnya penguasaan berbicara atau speaking skill dalam kehidupan, maka sudah selayaknya penanaman keterampilan berbicara, khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Inggris  mendapatkan perhatian.


Speaking atau berbicara menjadi salah satu target keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh seluruh  peserta didik. Speaking  mendapatkan porsi seimbang dengan ketiga keterampilan berbahasa yang lain, yaitu listening (mendengarkan), reading (membaca), dan writing (menulis).


Diharapkan setiap peserta didik menguasai kompetensi speaking dengan baik. Dengan penguasaan speaking skill yang optimal, peserta didik mampu berkomunikasi secara efektif untuk menunjang berbagai profesi yang kelak akan dijalani.


Kondisi ideal dalam pembelajaran speaking skill seperti disebut di atas ternyata belum terlaksana di SMP Negeri 2 Giritontro, Kabupaten Wonogiri, khususnya siswa kelas IXE semester 2 tahun pelajaran 2022/2023.


Angka partisipasi berbicara peserta didik di sekolah ini sangat kurang. Baru sekitar 35 persen dari peserta didik di setiap kelas yang sudah memanfaatkan kesempatan berbicara ketika ada penawaran dari guru.


Sebagian besar dari peserta didik cenderung tidak memanfaatkan peluang berbicara karena takut dan terkekang oleh rasa malu yang berlebihan. Hal itu tentu saja berdampak terhadap kegiatan diskusi kelompok, maupun diskusi kelas yang menjadi tidak sesuai harapan karena tidak terjadi partisipasi berbicara secara merata.


Berdasarkan pengalaman dari hasil analisis permasalahan, teridentifikasi adanya kendala psikologis yang  menghambat munculnya keberanian berbicara peserta didik. Muncul rasa malu ketika harus berbicara di hadapan teman-teman di kelasnya.


Selain itu,  karena mereka merasa bahwa penampilannya akan dinilai oleh guru, maka timbul perasaan takut jika penampilan berbicaranya jelek. Sebagian peserta didik bersikap apatis ketika diberi kesempatan berbicara karena merasa tidak punya tanggung jawab yang mengharuskan mereka berbicara.


Kondisi semacam itu adalah akibat dari faktor tidak adanya rasa percaya diri. Sebab itu, rasa percaya diri peserta didik perlu ditumbuhkan agar pembelajaran berbicara dapat berlangsung sesuai harapan dan mampu menanamkan kompetensi berbicara pada setiap peserta  didik.


Menurut Ladouse (pada Nunan, 1991: 23) speaking merupakan aktivitas untuk menjelaskan seseorang pada situasi tertentu ataupun aktivitas untuk melaporkan sesuatu. Sedangkan menurut Tarigan (1990 : 8), berbicara adalah cara untuk berkomunikasi yang berpengaruh pada hidup kita sehari-hari.


Untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada peserta didik, maka hambatan-hambatan psikologis dalam berbicara harus diatasi. Perlu juga dilakukan penanaman konsep diri yang  bisa menjadi motivasi intrinsik pada saat berbicara bagi peserta didik, yaitu dengan cara menanamkan keyakinan kepada peserta didik bahwa mereka mampu berbicara dengan baik di depan teman-teman sekelasnya.


Adapun jenis tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan story telling dan penilaian teman  sebaya dalam bercerita.


Story telling merupakan seni bercerita yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai pada anak yang dilalukan tanpa perlu menggurui (Asfandiyar, 2007:2).


Dalam story telling, peserta didik tampil berbicara bersama teman satu kelompok. Setiap anggota kelompok harus menceritakan potongan cerita yang menjadi bagiannya. Hal ini akan menghilangkan sikap apatis karena semua peserta didik memikul tanggung jawab. Meskipun proses berceritanya dilakukan perorangan, namun mereka maju secara berkelompok. Kebersamaan ini dimaksudkan agar mereka tidak malu atau takut berbicara.


Setelah menerapkan model story telling dengan pengalaman penulis di atas, dapat disimpulkan bahwa story telling penilaian oleh teman sebaya dari kelompok lain secara bergantian akan membuat peserta didik punya rasa percaya diri, karena mereka merasa pasti bisa, yaitu bisa melakukan dan bisa menilai.


Dengan story telling, minat belajar berbicara siswa meningkat menjadi 90 persen.  Kombinasi story telling  dan penilaian inilah pembelajaran berbicara mampu menanamkan kompetensi bercerita secara optimal pada setiap peserta didik di kelas IXE SMP Negeri 2 Giritontro tahun pelajaran  2022 / 2023. (*)


*) Guru  Bahasa Inggris SMPN 2 Giritontro, Kabupaten Wonogiri






Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Sri Rejeki Wulandari #Kabupaten Wonogiri #Tingkatkan Speaking Skill #story telling #Guru Bahasa Inggris SMPN 2 Giritontro #Pembelajaran Bahasa Inggris