Oleh: Sulastri, S.Pd.*)
BIDANG studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di sekolah menengah pertama (SMP) merupakan salah satu kajian yang menarik dalam proses belajar mengajar. Salah satu materi pembelajaran pada kelas IX adalah Kompetensi Dasar (KD) 3.4 Keberagaman Masyarakat Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Mata pelajaran PPKn merupakan usaha untuk membekali siswa dengan pengetahuan, keterampilan, dan sebagai sarana untuk menciptakan warga negara yang dapat diandalkan sebagai hasil belajar.
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Menurut Rusmono (2017), hasil belajar merupakan perubahan perilaku individu yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Arikunto (2009:133) menjelaskan, hasil belajar adalah hasil akhir setelah mengalami proses belajar. Perubahan itu tampak dalam perbuatan yang dapat diamati, dan dapat diukur. Sedangkan menurut Sudjana (2013:22), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.
Keberhasilan pembelajaran PPKn materi Kompetensi Dasar (KD) 3.4 Keberagaman Masyarakat Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika dapat dilihat dari nilai rata-rata pengetahuan dan keterampilan, persentase ketuntasan hasil belajar, baik pengetahuan maupun keterampilan siswa kelas IX semester 2 di SMP Negeri 2 Jatisrono pada kondisi awal nilai rata-rata siswa adalah 67,11 persen dan persentasi ketuntasan hasil belajar 11,53 persen.
Persentase ketuntasan hasil belajar masih jauh dari hasil yang diharapkan, yaitu minimal 75 persen. Hal tersebut disebabkan dengan ketidakmampuan siswa dalam mengikuti materi pembelajaran Keberagaman Masyarakat Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Salah satu cara yang dapat ditempuh guru untuk meningkatkan hasil belajar adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat, yakni cooperative learning (pembelajaran kooperatif). Merujuk Beren dan Erickson (2015), cooperative learning merupakan strategi pembelajaran menggunakan kelompok belajar kecil. Siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan cooperative learning, yaitu model pembelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa dalam sebuah kelompok kecil yang hasilnya dipresentasikan kepada kelompok lain di dalam kelas.
Presentasi yang disampaikan adalah hasil yang telah disepakati bersama oleh anggota kelompok masing-masing. Hasil dari kelompok dibahas dan ditanggapi oleh kelompok lain, sehingga terjadi proses belajar yang aktif dan dinamis.
Pada metode cooperative learning dapat menumbuhkan kebiasaan dan minat siswa untuk berpikir kritis dan berpendapat secara logis. Ibrahim (2000;10) menjelaskan, langkah-langkah model pembelajaran cooperative learning yaitu, pertama, menyampaikan tujuan dan motivasi siswa. Kedua, menyajikan informasi. Ketiga, mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar. Keempat, membimbing kelompok bekerja dan belajar. Kelima, evaluasi, dan keenam memberikan penghargaan.
Model pembelajaran tersebut dilaksanakan di SMP Negeri 2 Jatisrono dalam dua siklus. Setiap siklusnya terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pengumpulan data hasil penelitian dilakukan menggunakan dokumen, lembar observasi, butir soal, wawancara dan catatan lapangan. Sehingga hasil yang didapatkan valid karena data dibuat selengkap mungkin.
Hasil pembelajaran pada siklus 1 menunjukkan peningkatan rata-rata nilai siswa dari 67,11 persen menjadi 71,07 persen dan persentasi ketuntasan hasil belajar meningkat dari 11,53 persen menjadi 36,15 persen.
Hasil tersebut di bawah persentasi ketuntasan yang diharapkan, yaitu 75 persen, sehingga dilanjutkan ke siklus II. Pada siklus II terjadi peningkatan nilai rata-rata menjadi 82,69 persen dan persentasi ketuntasan klasikal meningkat menjadi 100 persen.
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan, penerapan model pembelajaran cooperative learning dapat meningkatkan hasil belajar materi Keberagaman Masyarakat Indonesia dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika, pada siswa kelas IX semester 2 SMP Negeri 2 Jatisrono, Kabupaten Wonogiri pada tahun pelajaran 2022/2023. (*)
*) Guru SMPN 2 Jatisrono, Kabupaten Wonogiri
Editor : Tri Wahyu Cahyono