Oleh: Rofiqoh, S.Pd.*)
PENDIDIKAN mempunyai pengaruh yg besar bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Proses pendidikan berlangsung seumur hidup. Menurut Ki Hajar Dewantara, tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat (Simon Petrus Rafael, 2020).
Sejalan dengan tujuan pendidikan tersebut, mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dirancang untuk menghasilkan siswa yang memiliki keimanan dan akhlak mulia sesuai dengan Pancasila, sehingga dapat berperan sebagai warga negara yang efektif dan bertanggung jawab. Dalam proses pembelajaran PPKn, peserta didik diharapkan memperoleh hasil belajar yang maksimal.
Hasil belajar adalah seluruh kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik dari pengalaman setelah melalui kegiatan pembelajaran (Sanjaya dalam Silaban et al., 2021). Keberhasilan peserta didik dalam belajar dapat dilihat dari hasil belajar yang diperolehnya. Peserta didik dikatakan kurang berhasil dalam belajar jika tidak adanya perubahan tingkah laku dalam mencapai suatu hasil atau tujuan yang diharapkan (Sitorus, 2021).
Berdasarkan pengamatan awal proses pembelajaran “Kesatuan Indonesia dan Karakteristik Daerah” di kelas VII A SMP Negeri 1 Batuwarno tahun 2022/2023, menunjukkan bahwa peserta didik cenderung pasif, kurang antusias menjawab pertanyaan, dan malas mengerjakan tugas.
Hal ini berdampak pada rendahnya hasil tes formatif dari 28 siswa VII A dengan KKM (70), yaitu yang memperoleh nilai di atas KKM 5 siswa (17,86 persen), sama dengan KKM 7 siswa (25 persen), dan di bawah KKM 16 siswa (57,14 persen).
Rendahnya hasil belajar ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain kegiatan pembelajaran yang membosankan dengan strategi pembelajaran konvensional dan tidak memperhatikan kebutuhan peserta didik yang beragam.
Belajar dari permasalahan tersebut, maka pada pembelajaran materi “Wilayah Negara Indonesia” perlu diterapkan model pembelajaran yang mampu menjawab kebutuhan peserta didik, yaitu pembelajaran berdiferensiasi.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah proses belajar mengajar dimana peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuan, apa yang disukai, dan kebutuhan masing-masing sehingga mereka tidak frustasi dan merasa gagal dalam pengalaman belajarnya (Tomlinson, 2017).
Komponen pembelajaran berdiferensiasi terdiri atas berdiferensiasi konten, proses dan produk (Marlina, 2020). Jadi, Strategi pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas guna memenuhi kebutuhan belajar setiap individu. Penyesuaian yang dimaksud yakni terkait minat, profil belajar dan kesiapan murid agar tercapai peningkatan hasil belajar (Herwina, 2021).
Langkah-langkah pembelajaran berdiferensiasi pada pembelajaran ini yaitu, pertama guru membuka pelajaran dengan berdoa, presensi, mengajak menyanyikan lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” dan memotivasi siswa dengan memberikan peta konsep wilayah Indonesia. Kedua, guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan kegiatan yang akan dilakukan.
Berikutnya ketiga, guru membagi siswa menjadi tujuh kelompok. Keempat, guru membagi lembar kerja tentang “Wilayah Indonesia”. Kelima, secara berkelompok siswa bebas menentukan sumber belajar dari peta Indonesia, buku, atau internet/hp dan memilih produk/hasil kerja baik berupa tulisan atau gambar peta dengan menandai daerah terluar Indonesia.
Keenam, guru memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil pekerjaannya dan memberi apresiasi. Ketujuh, guru bersama siswa menarik kesimpulan dan membuat penilaian. Kedelapan, guru meminta tanggapan siswa atas pembelajaran, lalu menutup kegiatan dengan memberi penguatan dan salam penutup.
Berdasarkan pengamatan, proses pembelajaran di kelas VII A berlangsung lebih aktif dalam tanya jawab, mengerjakan tugas dan antusias dalam presentasi. Setelah diadakan tes sumatif, hasil belajar mengalami peningkatan yaitu nilai 18 siswa (64,29 persen) di atas KKM, 8 siswa (28,57 persen) sama dengan KKM, dan dua siswa (7,14 persen) di bawah KKM. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi mampu meningkatkan hasil belajar PPKn. (*)
*) Guru PPKn SMPN 1 Batuwarno, Kabupaten Wonogiri
Editor : Tri Wahyu Cahyono