Oleh: Sapto Priyono, S.Pd*)
PENDIDIKAN nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu tolok ukur yang dapat digunakan dalam melihat peradaban bangsa yang maju adalah melalui pencapaian hasil belajar peserta didik baik ranah afektif, kognitif dan psikomotor.
Pencapaian Hajar (hasil belajar) mata pelajaran PJOK di kelas VII SMP Negeri 4 Selogiri, Kabupaten Wonogiri, pada semester genap, tahun pelajaran 2022/2023 menunjukkan bahwa yang tuntas belajar hanya dua peserta didik, dan yang tidak tuntas belajar sebanyak 31 peserta didik dengan hasil rata-rata nilai 55,89. Hal ini membuktikan masih rendahnya nilai hasil belajar mata pelajaran PJOK di kelas VII.
Rendahnya hasil belajar mata pelajaran PJOK di kelas VII semester genap disebabkan oleh metode pembelajaran yang disampaikan guru masih monoton, konvensional, atau lebih sering menggunakan metode ceramah, sehingga peserta didik merasa bosan, jenuh dengan pembelajaran yang diberikan oleh guru. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka guru mencoba menerapkan model pembelajaran Bening (blended learning).
Model pembelajaran Bening (blended learning) merupakan kombinasi antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran secara online. Menurut Winarto (2018: 52), Bening dapat diartikan suatu pembelajaran yang menggunakan media tertentu untuk mengajarkan materi kepada peserta didik dan mengombinasikan dengan tatap muka sehingga dalam pembelajaran ini dapat memunculkan kemandirian peserta didik untuk terus belajar atau tatap muka-virtual.
Langkah-langkah pembelajaran Bening sebagai berikut : pertama, peserta didik mengamati dan melihat materi yang sampaikan guru melalui WhatsApp grup atau Google Meet. Kedua, peserta didik kembali menanyakan konsep materi yang diberikan guru melalui WhatsApp grup atau Google Meet.
Berikutnya ketiga, peserta didik yang telah dibagi beberapa kelompok berkumpul mencoba mempraktikkan materi. Keempat, peserta didik menganalisa hasil temuan kelompok saat mencoba mempraktikkan dan hasil temuan ditulis dalam lembar pengamatan. Kelima, secara bergantian setiap kelompok memaparkan atau mengomunikasikan materi tersebut.
Berdasarkan proses langkah pembelajaran Bening telah mendorong adanya hubungan yang signifikan antara Bening (blended learning) dan Hajar (hasil belajar). Hasil dari data akhir menunjukkan bahwa yang memiliki kategori cukup sebanyak 11 peserta didik atau 34,28 persen dengan rentang skor 71-80, kategori baik sebanyak 14 peserta didik atau 42,86 persen dengan rentang skor 81-90, dan untuk kategori sangat baik sebanyak delapan peserta didik atau 22,86 persen dengan rentang skor 91-100.
Kemudian berdasarkan hasil uji signifikansi, diketahui rhitung yang dihasilkan sebesar 0,816 dengan nilai probabilitas (p) = 0,000 < 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak. Artinya terdapat hubungan yang signifikan antara model pembelajaran Bening dengan Hajar mata pelajaran PJOK, sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila penerapan model pembelajaran Bening semakin baik, maka Hajar mata pelajaran PJOK akan mengalami peningkatan. (*)
*) Guru PJOK SMPN 4 Selogiri, Kabupaten Wonogiri
Editor : Tri Wahyu Cahyono