Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Pembelajaran Kooperatif PBL Tingkatkan Prestasi Belajar IPS

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 19 April 2023 | 05:58 WIB
Photo
Photo

Oleh: Dwi Yatmono, S.Pd.*)


PELAJARAN Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sebagai salah satu mata pelajaran dalam Kurikulum 2013 juga berorientasi pada kompetensi yang utuh. Pelajaran IPS merupakan integrasi dari empat mata pelajaran, yaitu Geografi, Ekonomi, Sosiologi dan Sejarah.


Keempat mata pelajaran tersebut dipadukan oleh konsep ruang dan interaksi antarruang serta pengaruhnya terhadap kehidupan manusia dalam aspek ekonomi, social, budaya dan pendidikan.


Pembelajaran IPS menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu yang sering disebut sebagai pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan peserta didik, baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, mengali dan menemukan konsep serta prinsi-prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud, 1996: 3).


Kenyataannya, pembelajaran IPS masih banyak berpusat pada guru, mengarahkan bahan berupa informasi yang tidak mengembangkan berpikir nilai, serta hanya membentuk budaya menghafal dan bukan berpikir kritis.


Pelaksanaan pembelajaran IPS sangat menjemukan karena penyajiannya bersifat monoton, sehingga siswa kurang antusias dan mengakibatkan pelajaran IPS kurang menarik.


Hal tersebut dapat dilihat dari hasil ulangan harian IPS Kelas IX.A SMP Negeri 3 Sidoharjo pada materi Perdagangan Internasional sangat rendah, yakni 50 persen belum mencapai ketuntasan. Dengan melihat gejala di atas, penulis merasa perlu mengkaji sejauh mana penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.


Menurut Arends, PBL, yaitu suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada masalah otentik (nyata), sehingga diharapkan mereka dapat menyusun pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan tingkat tinggi dan inkuiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan kepercayaan dirinya.


Pelaksanaan  pada pertemuan  dilaksanakan sesuai dengan RPP yang telah disusun, dimana menggunakan model pembelajaran PBL dengan pelaksanaannya dengan beberapa tahap sebagai berikut: pertama,  orientasi siswa pada masalah guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan maslah, motivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.


Kedua, mengorganisasikan siswa untuk belajar, guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. Ketiga, membimbing penyelidikan individual ataupun kelompok. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.


Berikutnya keempat, mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.


Kelima, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan. Setelah dilakukan pelaksanaan maka diadakan refleksi.


Kegiatan ini berguna untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan aktivitas belajar sebelum dan sesudah tindakan yang nantinya digunakan sebagai bahan pertimbangan pelaksanaan  berikutnya.


Berdasarkan hasil refleksi dalam kegiatan pembelajaran secara keseluruhan berjalan sesuai dengan RPP, tetapi ada yang perlu diperhatikan guru, yaitu hendaknya guru memberikan kerja kelompok.


Penulis menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan belum mencapai indikator kinerja yang sesuai dengan harapan, khususnya pada aspek aktivitas siswa, sehingga dilanjutkan keberikutnya.


Proses pembelajaran kondisi awal siswa kelas IX.A SMP Negeri 3 Sidoharjo pada pelajaran IPS tentang materi Perdagangan Internasional kurang berhasil, karena rata-rata kelas pada pra mencapai 63,82 dan hanya 64 persen siswa mencapai ketuntasan atau nilainya lebih dari 75.


Padahal idealnya ketuntasan klasikal adalah 85 persen dan KKM harus 75. Dengan memperhatikan hasil pengamatan terhadap siswa dalam proses pembelajaran IPS di kelas IX.A pada materi Perdagangan Internasional terdapat peningkatan dari  76,83 persen menjadi 85,83 persen dengan menerapkan model pembelajaran PBL.


Meningkatnya prestasi belajar IPS siswa disebabkan penerapan model PBL mampu membuat siswa mengalami secara langsung proses pembelajaran. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran membuat siswa mampu berpikir kritis, membangun sendiri pemahamannya sehingga ketika permasalahan yang baru diberikan, siswa mampu menyelesaikannya berdasarkan pengalaman belajar yang telah dialami.


Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IX.A SMP Negeri 3 Sidoharjo. Pembelajaran PBL sangat cocok digunakan untuk materi perdagangan internasional dalam pembelajaran IPS. (*)


 *) Guru SMPN 3 Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri


 


Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Tingkatkan Prestasi Belajar IPS #Kabupaten Wonogiri #Pembelajaran Kooperatif PBL #Guru SMPN 3 Sidoharjo #Dwi Yatmono