Oleh: Resi Hardiyanto, S.Pd*)
PROSES belajar mengajar harus dikembangkan secara sistematis. Bertujuan membekali kemampuan pengamatan siswa yang terorganisasi. Serta membentuk konsep yang terstruktur, didasarkan atas ilmu-ilmu sosial.
Pengelolaan pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) masih berpusat pada guru (teacher centered). Ditandai masih mendominasinya metode ceramah. Pembelajaran akan lebih efektif, menarik, dan menyenangkan, apabila memanfaatkan berbagai media, termasuk metode secara bervariasi. Pembelajaran yang bervariasi, bertujuan agar menimbulkan minat dan hasil belajar peserta didik.
Dengan minat belajar yang tinggi, maka hasil belajar akan berkualitas. Sehingga mutu pendidikan akan meningkat. Peserta didik yang aktif berpartisipasi dalam pembelajaran PPKn, akan menarik minat dan hasil belajar dalam diri mereka sendiri. Sehingga mereka mampu memiliki pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai sesuai dengan tujuan pembelajaran PPKn.
Rendahnya minat anak terhadap pembelajaran PPKn, semua terjadi karena penggunaan metode mengajar kurang tepat. Minat belajar peserta didik terhadap PPKn rendah. Serta penggunaan alat peraga kurang optimal. Karena kurang efektif dalam pembelajaran.
Menyelesaikan masalah pembelajaran tersebut, harus segera diatasi dengan proses pembelajaran yang lebih berkualitas. Dapat menggairahkan minat dan meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam hal ini, guru menggunakan pendekatan pembelajaran yang efektif, inovatif, dan menyenangkan. Model pembelajaran inovatif dan kooperatif perlu diterapkannya.
Salah satunya model pembelajaran make a match untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas dalam pembelajaran PPKn dengan materi Peraturan Perundang–undangan di Indonesia, pada peserta didik kelas VIII E SMP Negeri 1 Tirtomoyo, semester genap tahun pelajaran 2021/2022.
Menurut Rahmad Widodo (2010), model pembelajaran make a match artinya, model pembelajaran yang mencari pasangan. Setiap siswa mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban), lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang dipegang.
Suasana pembelajaran dalam model pembelajaran make a match akan riuh. Tetapi sangat mengasyikkan dan menyenangkan. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia peserta didik.
Menurut Darmansyah (2006: 13), hasil belajar adalah hasil penelitian terhadap kemampuan siswa yang ditentukan dalam bentuk angka. Bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah, hasil penilaian terhadap kemampuan peserta didik setelah menjalani proses pembelajaran. Adanya peningkatan hasil belajar PPKn setelah diberikan pembelajaran dengan model pembelajaran make a match, berdasarkan data yang diperoleh pada kegiatan pada ulangan sebelum menggunakan metode make a match, dari 32 peserta didik, hanya 12 (37,5 persen ) yang telah mendapat nilai di atas kriteria ketuntasan maksimal (KKM).
KKM PPKn yang ditetapkan sebesar 75. Sementara sebanyak 20 peserta didik ( 62,5 persen ) mendapat nilai di bawah KKM. Nilai rata-rata kelasnya hanya 56,35 dari 32 peserta kelas VIII E SMP Negeri 1 Tirtomoyo semester genap tahun pelajaran 2021/2022.
Proses pembelajaran PPKn dengan materi Peraturan Perundang–Undangan di Indonesia, menunjukkan peningkatan yang sangat baik, setelah menggunakan metode pembelajaran make a macth. Terbukti dari nilai rata-rata 56,35 pada ulangan sebelum penggunaan metode ini, meningkat menjadi 70,82 pada ulangan pertama setelah penggunaan metode make a macth.
Pada ulangan yang kedua setelah penggunaan metode ini meningkat menjadi 75,88. Sedangkan ketuntasan hasil belajar sebesar 37,5 persen pada ulangan awal sebelum menggunakan metode make a macth, kemudian setelah mengubah cara pembelajaran dengan menggunakan metode make a match, hasil belajar meningkat jadi 70,82 persen. Dan meningkat lagi menjadi 75,88 persen pada hasil belajar II.
Peningkatan ini diperoleh karena adanya kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan minat, gairah, dan keaktifan siswa. Berdasarkan realita di atas, dapat disimpulkan bahwa, penggunaan model pembelajaran make a match membuat siswa lebih aktif, kreatif, dan bergairah dalam kegiatan pembelajaran PPKn.
Keberanian bertanya atau menanggapi pertanyaan juga sudah muncul. Siswa juga merasa lebih senang dan tertarik belajar PPKn. Kesimpulannya, model pembelajaran make a match terbukti dapat meningkatkan gairah, minat, dan hasil belajar PPKn materi Peraturan Perundang–Undangan di Indonesia pada peserta didik kelas VIII E SMP Negeri 1 Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri semester genap tahun pelajaran 2021/2022. (*)
*) Guru PPKn SMPN 1 Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri
Editor : Tri Wahyu Cahyono