Oleh: Gatot Wibowo*)
KURIKULUM Merdeka merupakan salah satu upaya untuk mendukung visi pendidikan Indonesia, serta bagian dari upaya pemulihan pembelajaran yang dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik.
Matematika salah satu mata pelajaran yang berisi kumpulan ide-ide yang bersifat abstrak, terstruktur, dan hubungannya diatur menurut aturan logis berdasarkan pola pikir deduktif. Mayoritas peserta didik menganggap matematika mata pelajaran yang membutuhkan penghitungan yang rumit.
Di SMP Negeri 5 Wonogiri, Kabupaten Wonogiri kelas VII D semester genap tahun pelajaran 2022/ 2023 mata pelajaran Matematika pada materi menggunakan data dengan kompetensi dasar mengaplikasikan konsep mean (rata-rata), median, modus, dan jangkauan (range) dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini dapat dilihat bahwa nilai rata-rata kelas yaitu 32,65 dan persentase daya serap penilaian harian hanya 33,33 persen, sedangkan daya serap idealnya adalah 85 persen.
Dilihat dari pencapaian penilaian sumatif materi menggunakan data dikategorikan rendah. Hal ini disebabkan karena banyak peserta didik SMP Negeri 5 Wonogiri yang masih mengalami kesulitan dalam mempelajari materi Matematika.
Guru belum mengembangkan kompetensiny melakukan suatu inovasi pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran yang tepat. Guru masih menggunakan metode ceramah dalam melaksanakan pembelajaran di kelas, sehingga peserta didik bosan dan cenderung malas mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Peserta didik melakukan aktivitas yang lebih menantang dan lebih asyik saat di rumah. Diantaranya lebih cenderung bermain game online. Aktivitas ini membuat peserta didik merasa malas membuka materi yang sudah disampaikan guru di sekolah.
Minat siswa dalam mengikut pembelajaran Matematika materi menggunakan data rendah sehingga hasil belajarnya pun menjadi rendah. Permasalahan ini menggerakkan guru untuk berinovasi dalam pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan strategi yang tepat pada kurikulum merdeka.
Guru diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang dapat menarik peserta didik untuk lebih termotiva dalam mempelajari materi menggunakan data.
Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran materi menggunakan data. Menurut Rusma (2010:229),PBL merupakan penggunaan berbagai macam kecerdasan yang diperlukan untuk melakukan konfrontasi terhadap tantangan dunia nyata, kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang baru dan kompleksitas yang ada.
Langkah-langkah model pembelajaran PBL, pertama, orientasi peserta didik terhadap masalah mean, median, modus dan jangkauan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, mengoorganisasi peserta didik untuk belajar berdiskusi secara kelompok.
Berikutnya ketiga, membimbing peserta didik dalam melakukan penyelidikan individual dan kelompok tentang mean, median, modus dan jangkauan dalam kehidupan sehari-hari.
Keempat, mengembangkan dan menyajikan hasil karya yang berupa video pembelajaran kemudian diunggah di google classroom pada android peserta didik. Kelima, guru menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah hasil karya peserta didik di google classroom serta melakukan penilaian secara terintegrasi.
Setelah menggunakan model pembelajaran discover learning di kelas VII D semester genap tahun pelajaran 2022/ 2023 mata pelajaran Matematika pada materi menggunakan data dengan kompetensi dasar mengaplikasikan konsep mean (rata-rata), median, modus, dan jangkauan (range) dalam kehidupan sehari-hari peserta didik lebih antusias dan semangat mengikuti kegiatan belajar mengajar, sehingga hasil analisis penilaian sumatif terlihat mengalami kenaikan rata-rata menjadi 92,40 dan daya serap 93,33 persen.
Hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran PBL materi menggunakan data dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. (*)
*) Guru Matematika SMPN 5 Wonogiri, Kabupaten Wonogiri
Editor : Tri Wahyu Cahyono