Oleh: Dra. Sri Purwani*)
PENDIDIKAN kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang menitikberatkan pada pembentukan warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak serta kewajibanya sebagai upaya menjadi warga negara yang baik, cerdas dan berkarakter sesuai dengan nilai-nilai pancasila.
Peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas dari pembelajaran, karena pembelajaran berkualitas mengoptimalkan motivasi belajar peserta didik, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kualitas pendidikan.
Motivasi belajar sangat dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran di kelas. Pada umumnya, peserta didik kurang bersemangat dan acuh dalam mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas.
Hal tersebut juga terjadi pada peserta didik di SMPN 3 Jatisrono Kelas VIII.B, materi arti dan makna Sumpah Pemuda dalam berjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia KD 3.5. Memproyeksikan nilai dan semangat Sumpah Pemuda tahun 1928 dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Dapat dilihat bahwa, dari 32 peserta didik kelas VIII.B semester genap SMPN 3 Jatisrono tahun pelajaran 2022/2023 yang mendapatkan nilai di atas kriteria ketuntasan minimal (KKM) hanya sembilan peserta didik.
Nilai rata-ratanya hanya 41,54 persen dan persentase daya serap penilaian harian hanya 32,14 persen. Padahal daya serap idealnya adalah 85 persen. Dilihat dari pencapaian penilaian harian pembelajaran yang masih rendah, sehingga guru dituntut untuk memiliki kecakapan dan kreativitas dalam melaksanakan tugasnya memberikan pengetahuan kepada peserta didik.
Kita sebagai guru harus menguasai dan dapat menerapkan berbagai model pembelajaran, sehingga dapat memilih model yang tepat untuk mencapai tujuan tertentu. Sesuai dengan lingkungan belajar kelompok siswa tertentu.
Penulis menerapkan metode debat, metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik peserta didik. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra.
Peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat peserta didik. Di dalam kelompoknya, peserta didik (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan.
Menurut Zaini (2018: 39), kata Debate diambil dari bahasa latin yang artinya bicara, debat. Dan secara istilah adalah satu metode berharga yang dapat mendorong pemikiran dan perenungan terutama kalau peserta didik diharapkan mempertahankan pendapat yang bertentangan dengan kenyakinan sendiri.
Untuk mencapai tujuan model pembelajaran debat tersebut dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, membuat sebuah pernyataan yang kontroversi terhadap materi yang telah kita berikan sebelumnya. Kedua, membentuk peserta didik dua kelompok besar di dalam kelas. Ketiga, satu kelompok adalah sebagai kelompok PRO atau pendukung pernyataan tersebut, sementara satu kelompok yang lain adalah sebagai kelompok kontra atau kelompok yang menolah pernyataan tersebut. Keempat, atur lalu lintas debat agar tidak terjadi “debat kusir”.
Berdasarkan pengamatan bahwa motivasi belajar peserta didik terhadap mata pelajaran PPKn naik, khususnya kelas VIII.B. Materi arti dan makna Sumpah Pemuda dalam Berjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia KD 3.5. Memproyeksikan nilai dan semangat Sumpah Pemuda tahun 1928 dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Hasil analisis penilaian harian terlihat bahwa mengalami kenaikan rata-rata menjadi 90,17 persen dan daya serap 92,85 persen. Dapat disimpulkan bahwa, dengan metode debat dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. (*)
*) Guru PPKn SMP Negeri 3 Jatisrono, Kabupaten Wonogiri
Editor : Tri Wahyu Cahyono