Oleh: Dra. Utami Padri Astuti, M.Pd.*)
PENGETAHUAN tentang literasi bagi guru sangat penting pada era 4.0. Era yang serba digitalisasi.
Terlebih sekarang perkembangan zaman yang cepat berubah, kurikulum sekolah pun berubah.
Mendikbudristek membuat terobosan baru dalam bidang Pendidikan.
Di antaranya, perubahan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka.
Karakteristik Kurikulum Merdeka menekankan struktur kurikulum yang lebih fleksibel.
Fokus pada materi yang esensial, memberikan keleluasan bagi guru menggunakan berbagai perangkat ajar sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Serta aplikasi yang menyediakan berbagai referensi bagi guru untuk terus mengembangkan praktik mengajar secara mandiri dan berbagi praktik baik.
Kalau ditarik benang merah dari kurikulum tersebut, perubahan kurikulum harus bersinergi dengan perkembangan kompetensi guru.
Bagaimanakah cara ideal mengembangkan kompetensi guru di era digital?
SMP Negeri 2 Wonogiri menerapkan pengembangan kompetensi guru melalui literasi digital.
Guru harus selalu berliterasi agar tidak ketinggalan informasi.
Guru harus terus bergerak membekali kemampuan digitalisasi untuk mengakses berbagai perangkat dan materi untuk “praktik baik” dalam pembelajaran.
Pada umumnya kompetensi kepribadian guru sudah terimplementasi dengan baik.
Yang perlu dipertegas adalah, bagaimana guru bisa menjadi teladan yang baik bagi peserta didik di era digital.
Dengan semakin maraknya penggunaan gawai dan semakin mudah mengakses segala sesuatu di dunia maya, diperlukan keteladanan guru yang santun dalam menggunakan gawai maupun medsos.
Peserta didik merupakan salah satu penyimak literasi guru di gawai atau hangphone maupun di medsos.
Peserta didik ada kecenderungan bahkan beralasan meniru dan menilai yang ditulis guru.
Karena itu, jangan sampai guru menuliskan hal-hal yang tidak sesuai dengan tata tulis dan kontennya pun harus bermakna.
Berkomunikasi secara santun, empatik, dan efektif tidak hanya dilakukan kepada peserta didik.
Guru harus memiliki kompetensi sosial bisa menjalin komunikasi dengan warga sekolah.
Interaksi komunikasi secara digital dapat dilakukan dengan aktif mengembangkan media komunikasi sosial sekolah.
Bisa melalui website sekolah, Instagram, Facebook, YouTube, Tiktok. Masing-masing media sosial ini dikelola oleh guru sebagai admin.
Penguasaan kompetensi pedagogik guru dalam pembelajaran dimulai dengan perencanaan.
Perencanaan pembelajaran disusun semaksimal mungkin bisa mengakomodasi kebutuhan peserta didik.
Rancangan pembelajaran disusun dengan rancangan metode yang menarik, media yang mudah diikuti dan digemari peserta didik.
Ketika handphone ataupun tablet masih merupakan barang yang digemari peserta didik, perlu dimanfaatkan untuk menyinergikan media pembelajaran yang dibuat guru.
Guru membuat inovasi digital google sites yang di dalamnya lengkap dengan fitur-fitur berupa tujuan pembelajaran, materi, video, soal dan pembahasan dari yang mudah sampai yang sukar.
Nah, di sini fungsi guru memfasilitasi sekaligus mengembangkan literasi digital bagi peserta didik maupun guru. Pembelajaran pun terkesan lebih menarik dan inovatif.
Kompetensi lain yang harus dikembangkan guru yaitu kompetensi profesional.
Segala hal yang dipelajari untuk meningkatkan pembelajaran dan pendukung pembelajaran bisa menjadi kegiatan penelitian ilmiah yang ditulis menjadi laporan ilmiah, sebagai salah satu bentuk pengembangan profesi guru.
Ide kreatif dengan memanfaatkan fitur-fitur yang ada di android merupakan alternatif untuk mengembangkan literasi digital.
Inovasi yang bisa dikembangkan misalnya memanfaatkan scan barcode untuk berliterasi.
Guru berliterasi sebagai penyedia informasi yang ditulis dalam website diberi barcode.
Barcode tersebut ditempel di dalam kelas, di tempat-tempat strategis, bahkan di pohon untuk literasi botani.
Peserta didik dengan mudah mengakses informasi tersebut dengan barcode. Ternyata lebih asyik dan menarik bagi peserta didik.
Untuk bisa memampukan semua guru mengembangkan kompetensi berliterasi perlu penguatan, dukungan ataupun pelatihan secara rutin.
Baik melalui pelatihan di platform Merdeka Mengajar (PMM) maupun pelatihan mandiri lainnya.
Di sinilah peran kepala sekolah untuk memotivasi dan menggerakkan serta memfasilitasi agar guru terus mengembangkan kompetensinya. (*)
*) Kepala SMP Negeri 2 Wonogiri
Editor : Tri Wahyu Cahyono