Oleh: Eny Setijawati, S.Pd., M.Pd.*)
BERBICARA merupakan aktivitas berbahasa kedua yang dikuasai oleh manusia setelah aktivitas mendengarkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas ini juga sangat dominan di antara aktivitas berbahasa yang lain.
Hampir seluruh kegiatan kehidupan manusia dalam bekerja membutuhkan aktivitas berbicara.
Pejabat pemerintah, anggota dewan, pemimpin perusahaan, dokter, pedagang, guru, penyiar, presenter, dan masih banyak lagi aktivitas kerja yang membutuhkan aktivitas berbicara.
Melihat begitu pentingnya penguasaan kemampuan berbicara dalam kehidupan, maka sudah selayaknya penanaman keterampilan berbicara ini mendapatkan perhatian, khususnya dalam pembelajaran di sekolah.
Berbicara menjadi salah satu target keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh seluruh peserta didik.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang mengacu pada Standar Isi yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), berbicara mendapatkan porsi seimbang dengan ketiga keterampilan berbahasa yang lain, yaitu mendengarkan, membaca, dan menulis.
Diharapkan setiap peserta didik menguasai kompetensi berbicara dengan baik. Dengan penguasaan keterampilan berbicara yang optimal, peserta didik mampu berkomunikasi secara efektif untuk menunjang berbagai profesi yang kelak akan dijalani.
Bahkan, keterampilan berbicara pun sebenarnya dapat menjadi sebuah kecakapan hidup yang bisa memberi sumbangan penghasilan.
Pembelajaran keterampilan berbicara seharusnya berlangsung dalam bentuk penanaman kompetensi berbicara.
Setiap peserta didik perlu terlibat aktif dalam berbagai aktivitas berbicara sesuai kompetensi yang harus mereka kuasai.
Hal itu ditandai dengan tingginya partisipasi peserta didik dalam semua aktivitas pembelajaran berbicara.
Dengan demikian tampak bahwa setiap peserta didik memiliki keberanian berbicara untuk mendukung pencapaian keterampilan berbicara.
Kondisi ideal dalam pembelajaran keterampilan berbicara yang seperti itu ternyata belum dapat terlaksana di kelas VIII A SMP Negeri 3 Sidoharjo Kabupaten Wonogiri semester ganjil tahun ajaran 2023/2024.
Angka partisipasi berbicara peserta didik sangat kurang. Baru sekitar 30 persen dari peserta didik di setiap kelas yang sudah memanfaatkan kesempatan berbicara ketika ada penawaran dari guru.
Sebagian besar dari mereka cenderung tidak memanfaatkan peluang berbicara karena takut, apatis, dan terkekang oleh rasa malu yang berlebihan.
Hal itu tentu saja berdampak terhadap kegiatan diskusi kelompok maupun diskusi kelas yang menjadi tidak sesuai dengan harapan karena tidak terjadi partisipasi berbicara yang merata.
Dari hasil analisis permasalahan, teridentifikasi adanya kendala psikologis yang menghambat munculnya keberanian berbicara peserta didik.
Muncul rasa malu ketika harus berbicara di hadapan teman-teman di kelasnya. Selain itu, karena mereka merasa bahwa penampilannya akan dinilai oleh guru, maka timbul perasaan takut jika penampilan berbicaranya jelek.
Sebagian peserta didik bersikap apatis ketika diberi kesempatan berbicara karena merasa tidak punya tanggung jawab yang mengharuskan mereka berbicara.
Kondisi semacam itu adalah akibat dari faktor tidak adanya rasa percaya diri. Oleh karena itu, rasa percaya diri peserta didik perlu ditumbuhkan agar pembelajaran berbicara dapat berlangsung sesuai harapan dan mampu menanamkan kompetensi berbicara pada setiap peserta didik.
Berdasarkan identifikasi masalah dan kajian teori, diperoleh kerangka berpikir bahwa berbicara adalah sebuah kegiatan produktif dalam berbahasa.
Berbicara merupakan bentuk keterampilan yang perlu dilatihkan secara intensif dalam kegiatan pembelajaran.
Dalam kegiatan berbicara bukan hanya berkaitan isi pembicaraan, tetapi juga berkaitan dengan teknik berbicara.
Pembelajaran tentang teknik berbicara hanya akan efektif bila peserta didik memiliki rasa percaya diri dalam melakukan aktivitas berbicara.
Menurut para pakar psikologi dan para motivator, rasa percaya diri seorang peserta didik dapat ditumbuhkan.
Untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada peserta didik maka hambatan-hambatan psikologis dalam berbicara harus diatasi.
Selain itu, perlu juga dilakukan penanaman konsep diri yang bisa menjadi motivasi intrinsik pada saat berbicara bagi peserta didik, yaitu dengan cara menanamkan keyakinan kepada peserta didik bahwa mereka mampu berbicara dengan baik di depan teman-teman sekelasnya.
Adapun jenis tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan penggunaan teknik tutur bersambung dalam bercerita.
Dalam bercerita dengan teknik tutur bersambung, peserta didik tampil berbicara bersama teman satu kelompok.
Setiap anggota kelompok harus menceritakan potongan cerita yang menjadi bagiannya.
Hal ini akan menghilangkan sikap apatis karena semua peserta didik memikul tanggung jawab.
Meskipun proses berceritanya dilakukan perorangan, namun mereka maju secara berkelompok. Kebersamaan ini dimaksudkan agar mereka tidak malu atau takut berbicara.
Penilaian oleh teman sebaya dari kelompok lain secara bergantian akan membuat peserta didik punya rasa percaya diri karena mereka merasa pasti bisa, yaitu bisa melakukan dan bisa menilai.
Dengan kombinasi teknik pembelajaran dan penilaian inilah pembelajaran berbicara mampu menanamkan kompetensi bercerita secara optimal pada setiap peserta didik di kelas VIII A SMP Negeri 3 Sidoharjo Kabupaten Wonogiri semester ganjil tahun ajaran 2023//2024.
Dengaan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknik tutur bersambung dapat mengoptimalkan penguasaan kompetensi bercerita pada peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 3 Sidoharjo Kabupaten Wonogiri semester ganjil tahun ajaran 2023/2024. (*)
*) Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 3 Sidoharjo, Kabupaten Wonogiri
Editor : Tri Wahyu Cahyono