RADARSOLO.COM - Film Conclave kembali menarik perhatian publik di tengah rasa duka mengenai kepergian Paus Fransiskus untuk selamanya pada Senin (21/4/2025).
Pasalnya, film peraih Piala Oscar untuk Skenario Adaptasi Terbaik ini ber-setting momen penunjukkan pengganti Paus yang meninggal dunia.
Conclave yang disutradarai Edward Berger menceritakan tentang Kardinal Thomas Lawrence (Ralph Fiennes) yang memimpin penyelenggaraan konklaf untuk mengganti sang pemimpin tertinggi Gereja Katolik, yang diwarnai beragam manuver politik.
Filmnya sendiri diangkat dari novel karangan Robert Harris bertajuk sama yang dirilis tahun 2016.
Dilansir dari USA Today, Selasa (22/4/2025), penulis naskah Peter Straughan mengungkap bahwa pihak Vatikan membuka pintu dalam proses riset untuk Conclave.
"Kami diajak tur privat ke Vatikan, dan mereka sangat ramah bahkan sangat membantu," kata Peter Straughan kepada USA Today menjelang perilisan film tersebut pada tahun lalu.
"Dunianya sangat menarik dan teatrikal, jadi Anda ingin mendapatkan detail yang tepat," ia menambahkan.
Di sisi lain, Conclave juga merupakan sebuah karya fiksi--termasuk soal ending film yang memberikan kejutan besar bagi penonton.
Namun Straughan mengklaim pihak Vatikan tak mempermasalahkan akhir film ini, maupun penggambaran politik di dalamnya.
"Kami tak ingin ompong dalam pendekatan terhadap Gereja, yang memiliki banyak kekeliruan, tapi kami sekaligus juga ingin menghormati jantung dari Gereja Katolik," kata dia.
Domus Sanctae Marthae
Dengan pendekatan seperti ini, bisa dipahami ada berbagai unsur fiksi maupun faktual yang terdapat dalam Conclave dalam pemilihan paus baru.
Salah satu detail yang sesuai fakta dalam film ini adalah penggambaran Domus Sanctae Marthae--guest house di Vatikan, tempat para kardinal tinggal selama pemilihan Paus.
Selama konklaf, mereka juga memutus hubungan dengan dunia luar.
"Seharusnya tak ada informasi yang keluar dan masuk ke dunia luar yang mempengaruhi pemilihan," kata Straughan.
ABC News juga mencatat bahwa kardinal yang hadir dalam konklaf mesti berusia di bawah 80 tahun dan memenuhi syarat yang berlaku.
Proses Pemilihan hingga Lobi-Lobi
Dalam pemungutan suara, satu per satu para kardinal meletakkan surat suara yang telah dilipat di atas sebuah piring bundar lalu mendorongnya ke dalam sebuah guci oval sambil mengucapkan sumpahnya.
Pendeta Thomas Reese yang merupakan kolumnis Religion News Service dan pemegang Ph.D ilmu politik Universitas California, mencatat bahwa guci yang ditampilkan dalam film sangat mirip dengan aslinya.
Seperti yang ditampilkan dalam Conclave, surat suara tersebut dijahit menggunakan jarum dan benang, lalu dibakar dengan bahan kimia.
Bila asap yang keluar hitam, atau fumata nera dalam bahasa Italia, menandakan belum ada paus baru yang terpilih.
Sebaliknya, bila yang keluar adalah asap putih, fumata bianca.
Paus yang baru kemudian mundul di balkon St. Peter Basilica dan Cardinal Protodeacon menyampaikan deklarasi "habemus papam" − "kita memiliki seorang paus."
Proses penyegelan kamar paus yang telah wafat dan penghancuran cincin kepausannya, sumpah yang diucapkan para kardinal sebelum pemungutan suara, dan penyisiran Kapel Sistina dari alat penyadap merupakan penggambaran yang akurat.
Lalu bagaimana dengan dinamika politik di balik pemilihan paus?
Pendeta Thomas Reese menyebut lobi di balik layar memang kerap terjadi.
Hal-Hal yang Tak Sesuai dengan Kenyataan
Namun berbeda dengan di film Conclave yang menampilkan Sister Agnes (Isabella Rosellini), tak ada wanita yang terlibat dalam konklaf.
Selain itu proses voting juga tak berjalan dengan riuh seperti dalam Conclave. Forbes mencatat bahwa proses ini penuh nuansa khidmat dan penuh ritual.
Hal lain yang didramatisir adalah karakter Kardinal Vincent Benitez (Carlos Diehz) yang digambarkan sebagai Cardinal in pectore yang dipilih secara rahasia oleh paus.
Kardinal seperti ini, kata Pendeta Thomas Reese, tak bisa ikut konklaf kecuali penunjukannya telah diungkap sebelum paus meninggal dunia.
Hal lain yang juga mesti diketahui, adalah pengambilan gambar Conclave tak dilakukan di Vatikan.
"Anda tak bisa syuting di Vatikan, sama sekali," kata Straughan.
Sinopsis film CONCLAVE
Kematian Paus akibat serangan jantung menyisakan misteri dan ketegangan.
Kardinal Thomas Lawrence, yang diperankan oleh Ralph Fiennes, mengambil alih posisi sebagai Dekan Dewan Kardinal.
Dia harus memimpin proses pemilihan yang tidak hanya melibatkan keyakinan spiritual, tetapi juga kekuatan politik.
Dalam suasana yang sangat rahasia, para Kardinal dari berbagai negara—Amerika Serikat, Italia, Nigeria, dan Kanada—terpecah menjadi beberapa kelompok dengan kandidat masing-masing.
Setiap kelompok memiliki strategi dan skema mereka sendiri untuk mendapatkan 75 suara mayoritas yang dibutuhkan untuk memenangkan pemilihan.
Intrik dan persaingan politik ini menciptakan suasana yang tegang, di mana setiap keputusan bisa berakibat fatal bagi karier mereka.
Konklaf bukan hanya sekadar pemilihan Paus; ini adalah arena di mana kekuasaan dan ambisi saling beradu.
Setiap Kardinal memiliki agenda tersembunyi, dan film ini dengan cerdik menggambarkan bagaimana skandal rahasia bisa terungkap.
Dari pengaruh politik hingga hubungan pribadi, semua aspek ini saling terkait dan mempengaruhi hasil akhir.
Di tengah ketegangan, para Kardinal tidak hanya harus berhadapan dengan satu sama lain, tetapi juga dengan masa lalu mereka.
Setiap karakter memiliki rahasia yang bisa menghancurkan reputasi mereka jika terungkap.
Ini menambah lapisan ketegangan yang membuat penonton terus menebak-nebak siapa yang akan keluar sebagai pemenang.(np)
Editor : Nur Pramudito