RADARSOLO.COM-Keikhlasan, ketegaran, dan cinta sejati menjadi napas dari perjalanan spiritual Endang Tri Nurniningsih, 60, jemaah haji asal Kabupaten Pekalongan, Jateng.
Berangkat bersama kloter 22 Embarkasi Solo (SOC 22), Endang menunaikan rukun Islam kelima dengan kursi roda—menjawab panggilan suci yang telah ia nantikan selama 13 tahun.
Langkah Endang ke Tanah Suci tak semudah kebanyakan orang.
Ia kehilangan kaki kirinya akibat kecelakaan tragis pada 2013, hanya tiga bulan setelah mendaftarkan haji bersama suami tercinta.
Kala itu, Endang tengah mengurus perizinan lembaga Kelompok Bermain (KB) ke UPT Dinas Pendidikan.
Saat melintasi jembatan yang sedang diperbaiki, ia ditabrak truk dari belakang. Kaki kirinya hancur.
“Waktu itu saya lihat sendiri kaki saya berserakan. Saya himpun, saya foto, dan saya kirim ke anak serta suami,” tutur Endang dengan suara tenang saat ditemui tim MCH di Hotel Sofwat Al Sharook, Sektor 5 Wilayah Syisyah, Makkah, Senin (19/5/2025) seperti dikutip dari jawapos.com.
Alih-alih larut dalam duka, ia segera mengambil keputusan besar.
“Saya bilang ke dokter, ‘Dok, sudah. Kaki saya diamputasi saja,’” ucapnya tegas.
Sejak diamputasi setinggi lutut, Endang tak pernah berhenti mengajar anak-anak di PAUD hingga masa pensiun.
“Ini sudah takdir. Tidak perlu disesali,” imbuhnya, menunjukkan ketegaran luar biasa.
“Ibu mengajarkan saya untuk jadi istri yang kuat. Karena kalau istri tidak kuat, rumah tangga bisa goyah,” kenangnya.
Dalam perjalanan hajinya kali ini, Endang ditemani sang suami, Khuya’i, pensiunan pegawai tata usaha SMA di Pekalongan.
Keduanya menggunakan kursi roda saat umrah dan ke Masjidil Haram.
“Sebenarnya Bapak masih bisa jalan. Tapi kalau ke Masjidil Haram pakai kursi roda, karena jaraknya jauh,” jelas Endang.
Khuya’i terlihat setia mendampingi. Ia dengan sabar mendorong kursi roda istrinya dari lobi hotel ke kamar.
“Selama haji ini kita saling membantu,” ucap Khuya’i singkat.
Endang menyebut kartu Nusuk—tiket resmi untuk melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji—sebagai “kartu mahal yang sangat disyukuri.”
“Akhirnya, saya dapat juga. Saya bersyukur luar biasa,” katanya.
Ia juga mengapresiasi layanan petugas haji, baik dari embarkasi hingga di Tanah Suci. “Semua baik. Tidak ada kesulitan,” ungkapnya.
Endang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya yang telah tiada, anak-anak, serta sanak saudara.
Meskipun keterbatasan fisik mengiringi langkahnya, wajahnya selalu ceria, semangatnya tak pernah surut.
Ketua Sektor 5, Fitriyanto, menegaskan seluruh jemaah, termasuk lansia dan disabilitas, mendapat perhatian khusus dari petugas.
“Kami minta semua petugas melayani siapa pun, baik lansia, disabilitas, maupun jemaah lainnya,” ujarnya.
Kisah Endang dan Khuya’i menjadi pengingat bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati.
Setiap langkah roda bukanlah keterbatasan, tetapi bagian dari pengabdian, keteguhan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. (*)
Editor : Tri wahyu Cahyono