Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Parah! 300-an Kios Makanan Gulung Tikar Tiap Bulan Sepanjang 2025, Ada Apa dengan Industri Kuliner di Singapura?

Syahaamah Fikria • Jumat, 20 Juni 2025 | 05:09 WIB
Marina Bay Sands, salah satu ikon wisata Singapura.
Marina Bay Sands, salah satu ikon wisata Singapura.

RADARSOLO.COM – Sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Asia, Singapura juga dikenal akan ragam sajian dan inovasi food & Beverage (F&B) kelas dunianya.

Namun, citra gemerlap tersebut kini harus dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit, gelombang penutupan bisnis makanan dan minuman yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Laporan terbaru menguak tren yang cukup memprihatinkan.

Sepanjang tahun 2025 ini, setiap bulannya, ratusan bisnis kuliner di Singapura terpaksa mengibarkan bendera putih, terpaksa menutup operasional mereka.

Angka penutupan ini bahkan melampaui masa-masa sulit pandemi Covid-19. Mengindikasikan bahwa sektor F&B Singapura tengah menghadapi tantangan yang jauh lebih berat.

Menurut data yang dirilis Reuters, rata-rata 307 kios makanan dan minuman terpaksa gulung tikar setiap bulan sepanjang tahun 2025.

Jumlah ini meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa industri kuliner di Singapura seolah kehilangan taringnya?

Biaya Selangit Cekik Bisnis Kuliner

Meningkatnya biaya operasional menjadi biang keladi utama di balik kolapsnya bisnis food and beverage di Singapura.

Tingginya biaya sewa, harga bahan baku yang melonjak, dan upah tenaga kerja yang terus naik disebut-sebut sebagai penyebab utama yang mencekik para pelaku usaha.

Contohnya, Alvin Goh, salah satu pendiri Wine RVLT, yang terpaksa akan menutup tokonya Agustus depan setelah kontrak sewa habis.

Dia mengungkapkan telah merugi sejak Juni 2023.

"Kami telah siapkan uang untuk memastikan bahwa sewa, gaji, dan pemasok tetap dibayar," katanya.

Fenomena ini tidak hanya melanda usaha kuliner kecil.

Restoran mewah pun tak luput jadi korban.

Salah satunya adalah private club 1880 di Robertson Quay yang belum lama ini mengumumkan penutupan permanen.

Klub Mewah Ikut Tumbang

Menurut laporan CNA, tingginya pengeluaran operasional di tengah jumlah pengunjung yang menurun drastis menjadi alasan utama penutupan mendadak klub mewah 1880.

Kondisi ini cukup memprihatinkan karena private club itu sempat berupaya mencari tambahan dana dengan mencari investor baru, namun sayang.

Mereka pun mendapat tiga tawaran investasi atau akuisisi 1880.

"Namun, kami tidak berhasil mendapatkan tawaran tersebut. Tanpa dana lebih lanjut untuk membayar staf atau pemasok, kami tidak punya pilihan lain selain tutup," tambah pihak 1880. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#singapura #f&b #Kebangkrutan #industri kuliner #wisata singapura