Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Profil Goh Cheng Liang: Hidup Miskin di Masa Perang Dunia II hingga Jadi Raja Cat Nippon Paint Wariskan Rp221 Triliun

Syahaamah Fikria • Rabu, 13 Agustus 2025 | 02:46 WIB
Goh Cheng Liang, pemilik saham mayoritas Nippont Paint, meninggal dunia di usia 98 tahun.
Goh Cheng Liang, pemilik saham mayoritas Nippont Paint, meninggal dunia di usia 98 tahun.

RADARSOLO.COM – Kabar duka menyelimuti dunia bisnis global dengan berpulangnya Goh Cheng Liang, pendiri Wuthelam Group dan pemegang saham utama Nippon Paint, pada usia 98 tahun, Selasa (12/8/2025).

Kepergiannya menjadi penutup dari sebuah kisah hidup yang luar biasa.

Goh berhasil mengubah takdirnya dari seorang yang hidup dalam kemiskinan di tengah konflik Perang Dunia II, menjadi salah satu orang terkaya di Singapura.

Di akhir hayatnya, Goh Cheng Liang meninggalkan warisan bersih mencapai sekitar Rp221 triliun.

Profil Goh Cheng Liang

Goh Cheng Liang lahir di Singapura pada tahun 1927.

Dia menghabiskan 12 tahun pertama hidupnya dalam kondisi serba kekurangan.

Goh kecil dan keluarganya yang terdiri dari orang tua, tiga saudara perempuan, dan seorang saudara laki-laki, harus berdesakan di sebuah kamar sewaan yang sempit.

Saat Perang Dunia II pecah, ia sempat diungsikan ke Muar, Johor, untuk membantu saudara iparnya menjual jaring ikan, sebelum kembali ke Singapura pada tahun 1943.

Sekembalinya ke Singapura, Goh mencoba peruntungan dengan mendirikan bisnis minuman bersoda, namun usahanya gagal.

Ia kemudian bekerja di sebuah toko perangkat keras, sebuah pengalaman yang menjadi titik balik hidupnya.

Pada tahun 1949, Goh melihat peluang emas ketika tentara Inggris melelang perlengkapan pasca perang.

Ia membeli beberapa barel cat dengan harga murah.

Berbekal kamus bahasa Mandarin tentang bahan kimia, ia mulai bereksperimen mencampur cat dan menciptakan mereknya sendiri, Pigeon Brand.

Bisnisnya melesat pesat pada tahun 1950, saat impor cat dibatasi karena pecahnya Perang Korea.

Bangun Kerajaan Cat dan Gurita Bisnis

Kesuksesan ini menarik perhatian produsen cat asal Jepang, Nippon Paint, yang kemudian mendekatinya untuk menjadi distributor.

Kemitraan ini menjadi pondasi bagi Goh untuk mendirikan Wuthelam Holdings pada tahun 1974.

Melalui perusahaan ini, ia mengembangkan bisnisnya menjadi konglomerat global yang menguasai hampir 60 persen saham Nippon Paint Holdings Jepang.

Tak hanya di industri cat, Goh juga merambah ke sektor lain, termasuk properti, dengan mengembangkan dan menjual properti ikonik seperti Liang Court.

Selain itu, dia juga mendirikan Rumah Sakit Mount Elizabeth.

Filantropis Peduli Kanker dan Pendidikan

Tak hanya mencatatkan namanya sebagai salah satu orang terkaya Asia, Goh Cheng Liang juga dikenal sebagai seorang filantropis yang sangat dermawan.

Ia banyak memberikan beasiswa bagi siswa kurang mampu dan menyumbang ke berbagai lembaga kesejahteraan sosial.

Dia memiliki semangat yang besar untuk memajukan penelitian medis, terutama dalam pengobatan kanker.

Dengan bantuan mendiang Presiden Singapura Wee Kim Wee, dia mendirikan Yayasan Goh pada tahun 1995.

Yayasan ini berkontribusi besar dalam pendirian Pusat Kanker Nasional Singapura (NCCS).

Serta mendukung penuh penelitian kanker anak di Rumah Sakit Wanita dan Anak KK, Yayasan Viva, dan Rumah Sakit Universitas Nasional.

Goh meninggalkan tiga anak, delapan cucu, dan seorang cicit.

Namun, bukan hanya keluarga yang berduka.

Kepergian Goh Cheng Liang tidak hanya meninggalkan kekayaan materi, tapi juga warisan kebaikan yang terus menginspirasi.

"Kami sangat berduka atas meninggalnya Bapak Goh. Kontribusi Bapak Goh dan Yayasan Goh memberi dampak positif bagi kehidupan pasien kanker dan keluarga mereka. Kami akan meneruskan warisan beliau untuk memajukan perawatan kanker," kata Kepala Eksekutif NCCS, Lim Soon Thye. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#konglomerat #singapura #miliarder #Goh Cheng Liang #warisan #Orang Terkaya Asia #Gurita Bisnis