RADARSOLO.COM – Otoritas penerbangan internasional kini tengah menyoroti langkah luar biasa yang diambil Pemerintah China.
Tanpa penjelasan resmi, Beijing menetapkan zona larangan terbang (no-fly zone) di lepas pantai timur mereka dengan durasi yang dianggap sebagai anomali, 40 hari berturut-turut.
Kebijakan ini memicu spekulasi global karena melampaui standar latihan militer biasa yang umumnya hanya memakan waktu beberapa hari.
Melalui penerbitan Notice to Airmen (NOTAM), "Negeri Panda" memperingatkan maskapai internasional mengenai pembatasan ruang udara sementara yang berlaku mulai 27 Maret hingga 6 Mei 2026.
Baca Juga: Gencatan Senjata Iran-AS-Israel Disepakati, Ini Daftar 10 Poin Proposal yang Bikin Dunia Tegang!
Kebijakan ini merentang dari Laut Kuning yang berbatasan dengan Korea Selatan hingga Laut China Timur yang menghadap Jepang.
Anomali Status SFC-UNL dan Durasi Panjang
Apa yang membuat kebijakan ini dianggap ganjil oleh para ahli adalah kombinasi antara status ketinggian dan durasinya.
China menetapkan status SFC-UNL (Surface to Unlimited), yang berarti ruang udara tersebut ditutup total mulai dari permukaan laut hingga ketinggian tak terbatas.
Baca Juga: Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang AS vs Iran Selama 2 Pekan, Presiden Ajukan Syarat Ini
Ray Powell, Direktur Proyek SeaLight di Universitas Stanford, menyebut langkah ini sebagai pergeseran signifikan.
"Kombinasi status ketinggian tak terbatas dengan durasi 40 hari tanpa adanya pengumuman latihan militer resmi adalah hal yang sangat menonjol. Ini menunjukkan postur kesiapan operasional berkelanjutan, bukan sekadar latihan terpisah," ujar Powell sebagaimana dilansir dari Wall Street Journal.
Cakupan Wilayah Lebih Luas dari Pulau Taiwan
Data dari Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat menunjukkan bahwa zona yang "dicadangkan" oleh China ini mencakup area yang sangat masif.
Total luas wilayah udara yang dibatasi tersebut dikabarkan lebih luas daripada pulau utama Taiwan.
- Ruang udara lepas pantai di utara dan selatan Shanghai.
- Wilayah strategis di Laut Kuning yang berhadapan langsung dengan Semenanjung Korea.
- Kawasan Laut China Timur yang bersinggungan dengan wilayah kedaulatan Jepang.
Baca Juga: Solo Bidik Jadi Tuan Rumah APSF, Modal Rekam Jejak Event Internasional
Kawasan Laut China Timur yang bersinggungan dengan wilayah kedaulatan Jepang.
Christopher Sharman, Direktur Institut Studi Maritim China di US Naval War College, menilai cakupan luas ini bisa menjadi ajang simulasi konflik berskala besar.
Ruang udara tersebut memberikan keleluasaan bagi militer China untuk melatih manuver pertempuran udara yang kompleks dalam skenario perang nyata.
Sinyal Geopolitik
Penetapan zona 40 hari ini muncul di tengah memanasnya suhu politik di Indo-Pasifik.
Beberapa poin penting yang melatarbelakangi situasi ini antara lain:
Pesan untuk Jepang: Pejabat keamanan senior Taiwan berpendapat bahwa kebijakan ini ditujukan untuk mengintimidasi Jepang, yang baru-baru ini mengerahkan rudal jarak jauh ke daratan China.
Manfaatkan Kelengahan AS: China diduga memanfaatkan pengalihan perhatian Amerika Serikat ke konflik di Timur Tengah untuk memperkuat kehadiran militer di halaman rumahnya sendiri.
Baca Juga: Korban Investasi Bodong Bisnis Air Kemasan di Sragen Mengadu ke Kompolnas: Kerugian Ratusan Juta
Respons terhadap Taiwan: Langkah ini juga bertepatan dengan kunjungan delegasi Kongres AS ke Taiwan guna membahas pembelian senjata besar-besaran oleh Taipei.
Dampak bagi Penerbangan Sipil
Meskipun NOTAM tersebut tidak sepenuhnya menutup jalur komersial, aktivitas penerbangan sipil di area tersebut menjadi sangat terbatas dan harus melalui koordinasi ketat.
Pengawasan yang diperketat membuat maskapai harus menyesuaikan rute, yang berpotensi menambah durasi penerbangan dan biaya operasional.
Hingga saat ini, Kementerian Pertahanan China maupun otoritas penerbangan sipil Beijing belum memberikan pernyataan resmi terkait alasan di balik penutupan "langit" selama 40 hari tersebut.
Ketidakterbukaan ini justru memperkuat keyakinan analis bahwa China sedang melakukan uji kesiapan militer jangka panjang guna mengikis pengaruh Amerika di kawasan Indo-Pasifik.
Editor : Syahaamah Fikria