Melalui pernyataan di platform Truth Social pada Minggu (12/4/2026), Trump mengungkapkan bahwa sebagian besar poin dalam perundingan sebenarnya telah mencapai kesepakatan.
Namun, isu utama terkait program nuklir Iran masih belum menemukan titik temu.
Baca Juga: JD Vance Angkat Bicara Usai Perundingan Iran dan Amerika Gagal, Apakah Perang Tak Terhindarkan?
“Pertemuan berjalan baik, sebagian besar poin disepakati, tetapi satu-satunya poin yang benar-benar penting, nuklir, belum,” tulisnya, seperti dikutip dari BBC.
Trump menilai Iran menjadi penghambat dalam kesepakatan, terutama terkait kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
Ia menyebut alasan Teheran mengenai ancaman ranjau laut tidak dapat diverifikasi.
Sebagai respons, ia mengklaim telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk mencegat kapal-kapal di perairan internasional yang membayar “pungutan ilegal” kepada Iran.
Selain itu, operasi untuk menghancurkan ranjau yang disebut-sebut dipasang Iran di Selat Hormuz juga akan dilakukan.
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa kapal yang tetap membayar pungutan tersebut tidak akan mendapatkan jaminan keamanan.
Ia juga memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap kapal sipil maupun pasukan AS akan dibalas dengan tindakan tegas.
Lebih lanjut, Trump memastikan bahwa rencana blokade akan segera direalisasikan.
Ia menilai sikap Iran yang dianggap tidak konsisten telah memicu ketidakpastian global serta berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dunia.
Trump turut menyinggung laporan hasil perundingan di Islamabad yang disampaikan oleh Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, serta negosiator Jared Kushner.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, atas perannya dalam memfasilitasi perundingan yang berlangsung hampir 20 jam tersebut.
Meski berbagai poin telah disepakati, Trump menegaskan bahwa satu isu paling krusial masih menjadi penghalang utama, yakni keengganan Iran untuk menghentikan ambisi pengembangan nuklirnya.(np)