RADARSOLO.COM - Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan Himalaya di Nepal utara pada Rabu (26/8/2026). Air bah bercampur lumpur, batu, dan material longsoran meluncur deras melalui lembah hingga menyapu bangunan, kendaraan, serta sejumlah infrastruktur.
Bencana terjadi di Distrik Rasuwa, kawasan pegunungan yang berbatasan langsung dengan Tibet, China. Wilayah tersebut merupakan jalur penting menuju perbatasan sekaligus kerap dilalui wisatawan, peziarah, dan pendaki.
Sedikitnya 160 orang dilaporkan tewas, sementara lebih dari 400 orang masih belum ditemukan. Dari jumlah wisatawan yang dilaporkan hilang, 291 merupakan warga negara asing dan 93 warga Nepal. Proses pendataan masih berlangsung sehingga jumlah korban dapat berubah.
Baca Juga: Karhutla Kembali Kepung Kalimantan, Mengapa Kebakaran Hutan Terus Berulang?
Kawasan Syapru Besi dan Timure menjadi salah satu wilayah yang terdampak parah. Banjir juga menyebabkan sedikitnya 19 jembatan dan sekitar 40 kilometer jalan rusak atau tersapu arus. Sejumlah fasilitas pembangkit listrik turut terdampak dan beberapa wilayah terputus dari akses darat.
Besarnya volume air yang tiba-tiba menerjang lembah diduga tidak hanya disebabkan hujan deras. Bencana diperkirakan berkaitan dengan longsoran besar yang membawa material es dan batu dari kawasan gletser Himalaya.
Material tersebut diduga jatuh ke aliran sungai dan mendorong air serta material sungai secara tiba-tiba ke arah hilir. Kondisi itu kemudian menghasilkan banjir bandang dengan daya rusak sangat besar.
Baca Juga: Prabowo Klaim Penanganan Gempa NTT Cepat dan Masif, Warga Masih Keluhkan Bantuan
Sempat muncul dugaan bahwa aktivitas seismik menjadi pemicu runtuhan. Namun, dari hasil analisis belum ditemukan bukti gempa bumi sebelum banjir sebagai pemicu langsung. Penyebab pasti bencana masih dalam penyelidikan.
Kerusakan jalan dan jembatan membuat proses penyelamatan menjadi sulit. Tim penyelamat mengerahkan helikopter untuk mengevakuasi warga yang terjebak sekaligus mencari korban yang masih hilang.
Dengan ratusan orang belum ditemukan dan sejumlah wilayah masih sulit dijangkau, jumlah korban dikhawatirkan terus bertambah. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno