RADARSOLO.COM - Banjir besar yang melanda Bangkok, Thailand, tidak terjadi hanya karena hujan deras. Genangan yang merendam seluruh 50 distrik di ibu kota Thailand tersebut merupakan hasil dari kombinasi hujan ekstrem, kapasitas drainase yang kewalahan, serta kondisi geografis Bangkok yang berada di dataran rendah.
Hujan deras menjadi pemicu awal banjir. Departemen Meteorologi Thailand (TMD) mencatat curah hujan hampir 300 hingga 330 milimeter yang mengguyur Bangkok selama lebih dari 48 jam.
Hujan tersebut dipengaruhi oleh sistem tekanan rendah yang aktif di wilayah Dataran Tengah bagian bawah (Lower Central Plains) dan kawasan sekitar Bangkok. Kondisi ini kemudian diperkuat oleh angin muson barat daya di atas Laut Andaman dan Teluk Thailand.
Baca Juga: Mau Jastip dari Thailand? 5 Barang Ini Paling Layak Diburu
Penguatan muson membuat pasokan uap air dan awan hujan terus bergerak menuju wilayah Bangkok. Hujan pun berlangsung selama beberapa hari sehingga air yang masuk ke kawasan perkotaan semakin bertambah.
Dalam kondisi tersebut, jaringan drainase dan kanal (khlong) Bangkok mulai menghadapi tekanan besar. Sistem pembuangan sebenarnya tetap berfungsi, tetapi volume air yang masuk dalam waktu singkat melampaui kapasitas jaringan.
Stasiun pompa kota juga dikerahkan secara maksimal untuk mengurangi genangan. Debit pembuangan air disebut mencapai sekitar 1.200 meter kubik per detik. Namun, upaya tersebut belum mampu mengimbangi pasokan air hujan yang terus turun selama sekitar tiga hari.
Baca Juga: Bukan Cuma Dikoleksi, Kenapa Gen Z Bangkok Suka Gantung Art Toy di Tas?
Kondisi semakin rumit karena Bangkok secara geografis berada di wilayah dataran rendah. Bentuk wilayah yang relatif rendah membuat air lebih mudah menggenang ketika curah hujan tinggi dan sistem pembuangan tidak mampu mengalirkannya dengan cepat.
Selain hujan lokal, Bangkok juga menghadapi limpasan air dari wilayah hulu Sungai Chao Phraya. Bendungan Chao Phraya di Chai Nat yang mendekati kapasitas maksimum membuat otoritas harus meningkatkan pelepasan air secara bertahap.
Debit pelepasan air tersebut mencapai sekitar 1.950 meter kubik per detik. Air kemudian bergerak menuju wilayah hilir dan menambah tekanan terhadap sistem pertahanan banjir Bangkok.
Gabungan hujan ekstrem, drainase yang kewalahan, kondisi dataran rendah, serta tambahan aliran dari hulu akhirnya membuat banjir meluas hingga seluruh 50 distrik Bangkok.
Kondisi tersebut kemudian mendorong pemerintah Bangkok menetapkan wilayah ibu kota sebagai zona terdampak bencana dan mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum