Seperti diketahui, aksi bullying kembali terjadi di salah satu SMP di Purworejo. Video aksi bullying itu viral di media sosial, Rabu (12/2) malam. Dalam video berdurasi 28 detik tersebut, tampak tiga orang siswa laki-laki merundung seorang siswi. Mereka menendang dan bahkan memukul si korban dengan gagang sapu. Korban yang tampak tidak berdaya hanya menundukkan kepala di meja sambil menangis.
Atas kejadian itu, Ganjar telah melakukan respons cepat. Selain langsung memberi instruksi pihak-pihak terkait untuk pengusutan kasus itu, Ganjar juga membuat unggahan terkait kasus itu di akun Instagramnya.
Unggahan itu mendapat respons masyarakat. Ada ribuan komentar dari warganet. Mayoritas warganet mengecam perlakuan pelaku pembulian. Mereka meminta agar pelaku dihukum seberat-beratnya, bahkan dikeluarkan dari sekolah.
Namun, Ganjar kurang sepakat dengan usulan itu. Meski mengecam pelaku, Ganjar masih mempertimbangkan masa depan pelaku yang masih anak-anak.
"Kalau dihukum dan dikeluarkan, lalu mereka sekolahnya gimana?" jawab Ganjar terhadap komentar-komentar itu.
Meski demikian, ada beberapa komentar warganet yang menarik perhatian Ganjar. Misalnya ada yang mengusulkan agar para pelaku dihukum dengan cara 'disekolahkan' bersama TNI selama tiga bulan.
"Pak tolong jangan berdamai dengan bullying. Kasih mereka pendidikan tiga bulan bersama TNI. Bikin sejera-jeranya," ucap akun @keiijurohyugaa.
Menurut Ganjar, usulan menghukum para pelaku dengan memberikan pendidikan ala militer cukup bagus. Hal itu akan lebih mengena daripada penerapan hukuman seperti pelaku pidana lainnya.
"Mereka masih anak-anak, jadi perlakuannya jangan seperti pidana lain. Mungkin hukumannya dimasukkan ke tempat khusus yang membuat dia disiplin dan mengerti. Itu ada yang usul seperti itu di medsos saya. Dan menurut saya, idenya bagus," kata Ganjar, Kamis (13/2).
Selain ide-ide sanksi yang dilontarkan melalui media sosial, ada juga usulan lain dari masyarakat yang dinilai Ganjar cukup bagus dan membangun. Karena korban yang dibully adalah penyandang disabilitas, maka para pelaku diminta menjadi relawan di yayasan atau rumah difabel.
"Ada pengelola rumah disabilitas atau Rumah D di Semarang yang kontak saya. Beliau usul para pelaku menjadi relawan di rumah penyandang disabilitas agar mereka bisa mengerti dan muncul kepekaan. Saya saja sampai merinding mendengar usul ini," papar Ganjar.
Lebih lanjut diungkapkan Ganjar, dia menampung usulan sanksi ‘menyekolahkan’ pelaku bersama TNI dan menjadikan pelaku relawan di rumah difabel. Sebab, menurut dia, sanksi itu lebih pantas diberikan kepada para pelaku.
”Mudah-mudahan mereka (pelaku, Red) akan tersentuh dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Efek jeranya bisa kena, tapi dengan cara yang baik," pungkas Ganjar. (bay/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra