Selain Ganjar, salat Jumat berjamaah di Gradhuka Nhakti Praja siang tadi juga diikuti Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen, sejumlah pejabat lingkungan pemprov, dan jamaah lain. Dilaksanakan untuk kali pertama sejak pandemi Covid-19, salat Jumat berjamaah menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 secara ketat.
Sejak masuk ke lokasi, dilakukan cek suhu tubuh kepada seluruh jamaah. Mereka wajib memakai masker dan hand sanitizer. Di dalam ruangan, para jamaah dibatasi jarak menggunakan lakban. Khotbah yang dibacakan juga sangat pendek, hanya sekitar tujuh menit.
"Ini salat Jumat pertama saya sejak pandemi. Memang umat sudah rindu untuk bisa melaksanakan salat Jumat seperti ini, termasuk saya. Makanya hari ini kita coba laksanakan untuk latihan," kata Ganjar saat ditemui usai salat.
Sebelum sujud rakaat terakhir, dipanjatkan doa Qunut Nazilah atau doa berlindung dari bencana. Dikatakan Ganjar, pelan-pelan semua harus dipersiapkan dengan matang. Masyarakat butuh contoh agar memahami kondisi saat ini.
"Saya sengaja menggelar salat Jumat hari ini. Saya tidak memilih di masjid, tapi di Gradhika untuk mengatur semuanya. Tadi jamaah yang mau ikut 200, saya minta 100 saja. Ini tadi mendadak, jadi sekalian mau saya lihat apakah bisa berjalan. Kalau di sini kan jamaahnya kawan-kawan ASN, jadi lebih mudah diatur," papar Ganjar.
Melihat pelaksanaan salat Jumat berjamaah tadi, menurut Ganjar, semua sudah berjalan sesuai harapan. Protokol dijalankan ketat dan semua tertib.
"Tapi tadi saya tidak melihat saat keluar, apakah mereka mau tertib tidak. Ini tentu akan kami evaluasi. Harapannya bisa memberikan contoh untuk tempat lainnya," tegasnya.
Bagaimana dengan pelaksanaan salat Jumat di tempat lain? Diakui Ganjar, kemungkinan belum semua masjid bisa menggelar salat Jumat dalam waktu dekat ini. Hal ini juga telah dibahas dalam rapat yang digelar bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI).
"Prioritasnya hanya di daerah yang sudah hijau. Maka dari itu, sekarang kita latihan dulu agar nanti bisa berjalan baik. Tidak hanya saat prosesi beribadah di dalam, tapi mulai masuk sampai keluar, semua harus tertib,” papar Ganjar.
Lebih lanjut ditegaskan gubernur, jumlah jamaah juga harus dibatasi. Skenarionya akan diterapkan shift. “Saya tanya ke beberapa ulama dan memang boleh (penerapan shift, Red)," tutup Ganjar. (bay/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra