Hal itu diungkapkan Trubus Rahadiansyah, pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti.
“Para wisatawan dari luar harus PCR dua kali. Hal ini menyebabkan mereka memilih Thailand karena di sana tidak memberlakukan kebijakan tersebut. Jadi kebijakan PCR ini tidak tepat untuk saat ini,” kata Rahadiansyah.
Menurut dia, pada triwulan akhir tahun ini merupakan waktu yang tepat untuk mendongkrak sektor pariwisata. Namun, adanya kebijakan itu dikhawatirkan justru memberi dampak kurang baik pada peningkatan pariwisata di Tanah Air.
“Akan kalah bersaing dengan negara lain. Soalnya ya sekarang ini saja banyak wisatawan Bali yang membatalkan perjalanan,” ungkapnya.
Dia menambahkan, evaluasi kebijakan perlu dilakukan untuk mengetahui dampak yang mempengaruhi pergerakan ekonomi dalam negeri, khususnya pada bidang pariwisata. Persyaratan vaksin dan antigen dirasa sudah cukup daripada tes PCR.
“Menurut saya ini harus dievaluasi. Untuk dalam negeri sebaiknya antigen saja sudah cukup. Kebijakan ini harusnya pakai antigen saja, enggak usah PCR lagi,” pungkas Rahadiansyah. (JPG/mga/ria)
Editor : Syahaamah Fikria