Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Tekan Penularan Antraks, Pemkab Klaten: Stop Jual Beli Sapi dari Gunungkidul

Damianus Bram • Rabu, 9 Februari 2022 | 03:34 WIB
WASPADA: Vaksinasi ternak sapi di Gentan, Gantiwarno, Klaten yang berbatasan langsung dengan Gunungkidul kemarin (8/2). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
WASPADA: Vaksinasi ternak sapi di Gentan, Gantiwarno, Klaten yang berbatasan langsung dengan Gunungkidul kemarin (8/2). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten resmi menutup pintu ternak sapi asal Kabupaten Gunungkidul. Terutama dari daerah terjangkit antraks. Ini untuk mengantisipasi penularan penyakit ini ke wilayah Kota Bersinar. Selain itu juga dilakukan vaksinasi ternak sapi yang berada di perbatasan langsung dengan Gunungkidul.

“Saya minta untuk Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Klaten untuk melaksanakan vaksinasi ternak sapi. Termasuk mengecek ke rumah pemotongan hewan (RPH). Ini untuk mengantisipasi apakah ada daging yang terjangkit antraks. Sedangkan untuk pengendalian jual beli ternak sapi asal Gunungkidul distop dulu,” ujar Bupati Klaten Sri Mulyani, Selasa (8/2).

Sri Mulyani memastikan, penutupan ternak sapi asal Gunungkidul ke Klaten berlangsung sambil menunggu perkembangan kasus antraks. Apabila kasusnya semakin serius penutupan akan terus dilakukan. Sedangkan para penyuluh diminta turun ke bawah menemui peternak sapi di perbatasan untuk melakukan pemeriksaaan.

“Kami siapkan sejumlah skenario. Tidak bisa masuk dulu (ternak sapi). Terutama dari wilayah terjangkit khususnya Gunungkidul,” ucapnya.

Sementara itu, pelaksanaan vaksinasi terhadap ternak sapi di perbatasan mulai dilaksanakan, Selasa (8/2) di Desa Gentan, Kecamatan Gantiwarno. Total ada ratusan ekor sapi yang divaksinasi oleh petugas dari DKPP Klaten.

“Vaksinasi sapi menyasar delapan desa di empat kecamatan. Total ada 2.378 ekor sapi yang divaksin secara bertahap. Karena daerahnya dekat dengan wilayah terjangkit di Gunungkidul,” ucap Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Klaten Triyanto.

Delapan desa itu meliputi Desa Karangturi dan Gentan, Kecamatan Gantiwarno dan Desa Nengahan, Desa Bogem dan Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat. Kemudian Desa Burikan dan Desa Karangasem, Kecamatan Cawas, dan Desa Kaligayam, Kecamatan Wedi.

“Kami sudah komunikasi dengan Dinas Peternakan Gunungkidul sebagai upaya antisipasi. Terutama dari wilayah terjangkit antraks untuk tidak keluar daerah. Termasuk tidak boleh melakukan segala aktivitas di wilayah terjangkit antraks,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala DKPP Klaten Widiyanti mengimbau para pedagang untuk tidak membeli daging sapi asal Gunungkidul. Mengingat tetap berpotensi menular ke manusia dengan berbagai media. Mulai dari menyentuh ternak sapi hingga mengkonsumsi daging terjangkit antraks.

“Jika bakterinya masih berada pada tubuh ternak dalam bentuk vegetatif terhadap panas tidak tahan. Tetapi kalau sudah membentuk kapsul dan spora bisa bertahan dalam berbagai kondisi. Bahkan bisa bertahan puluhan tahun pada area penyembelihan,” ucapnya.

Widiyanti menjelaskan, peternak harus tetap mewaspadai penyebaran antraks melalui pakan ternak hingga pupuk kompos. Mengingat bisa saja bakteri itu secara tidak sengaja berkembang pada media tersebut. Terutama pakan ternak dan pupuk kompos yang berasal dari daerah terjangkit antraks.

“Kami juga sudah menyampaikan nomor kontak kepada peternak apabila jika sapi mengalami sejumlah gejala. Salah satunya suhu tubuh yang tinggi. Meski itu belum tentu antraks tetapi ya tetap mewaspadai,” pungkasnya. (ren/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#Kasus Antraks di Gunungkidul #DKPP Klaten #Stop Sapi dari Gunungkidul #Sapi dari Gunungkidul #Vaksinasi Sapi #bupati klaten sri mulyani #Antisipasi Antraks