Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Tradisi "Sangat" yang Masih Dipegang Erat Warga Lereng Merapi

Damianus Bram • Senin, 9 Mei 2022 | 13:00 WIB
LESTARIKAN TRADISI: Paiman mempraktikkan cara menghitung hari baik berdasar primbon Jawa. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
LESTARIKAN TRADISI: Paiman mempraktikkan cara menghitung hari baik berdasar primbon Jawa. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
BOYOLALI - Tradisi sangat masih dipegang hingga kini oleh warga di lereng Merapi-Merbabu. Sangat merupakan kata serapan dari bahasa Arab, shad-ain-tha. Berarti waktu. Tradisi ini untuk menghitung waktu baik untuk mengerjakan sesuatu atau menggelar hajatan. Didasarkan pada penanggalan Jawa atau kerap juga disebut primbon.

Ketua Adat Desa Lencoh Paiman Hadi Martono mengatakan, tradisi sangat masih dijalankan hingga kini. Setiap ada kegiatan hajatan, warga lereng Merapi ini harus menghitung hari yang cocok. Meski jarak waktu hari pelaksanaan bisa lebih lama bahkan berbulan-bulan. Tradisi sangat, sudah melekat sejak dulu. Apalagi ketika perhitungan hari baik untuk hajatan meleset, bisa jadi buah bibir.

"Dalam sehari itu ada lima waktu baik, dan setiap orang berbeda-beda. Di sisi lain, ada juga waktu tidak baik dan harus dihindari. Makanya setiap ada hajatan, nikah, sunat, bangun rumah dan lainnya harus ada perhitungan sang'at ini," terangnya ditemui di rumahnya di Lencoh, Selo, Boyolali belum lama ini.

Sangat biasa juga disebut neptu dino lan pasaran (perhitungan hari dan pasaran) dalam penanggalan Jawa. Namun, tak sebatas itu. Sangat juga menentukan jam pelaksanaan hajat. Seperti dalam sunat anak laki-laki, penentuan sangat dianggap penting. Karena berpengaruh pada keselamatan si anak dan orang tua nantinya.

Perhitungan neptu dino dan pasaran sudah ada perhitungannya. Dalam neptu dino, Ahad/Minggu memiliki perhitungan 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6 dan Sabtu 9. Kemudian untuk pasaran, Kliwon bernilai 8, Legi 5, Pahing 9, Pon 7 dan Wage 4. Barulah keduanya digabung dan dihitung dengan pakem-pakem tertentu. Tujuannya untuk menentukan neptu yang baik. Waktu pergantian hari dalam kalender Jawa terjadi setelah Magrib. Bukan 00.00 seperti kalender Masehi.

"Sunat juga mencari jam bagusnya saat hari H pelaksanaan. Kalau saya menentukan sangat itu bisa saat berangkat ke luar rumah. Jadi tidak harus saat jam itu baru bisa disunat," terangnya.

Dalam menentukan sangat, ada jam-jam yang harus dihindari. Pertama, hari nas atau geblak (meninggalnya) orang tua, bulan Sura atau Muharam, hari tanggal atau patah, pati dina atau matinya hari, waktu anak suwung atau dalam kondisi kosong, serta hari sangkar wangke tali wangke. Hari-hari tersebut menjadi pantangan dan harus dihindari.

"Termasuk Ramadan ini, setelah magrib baru boleh sunat maupun potong hewan. Karena bulan suci tidak baik membunuh hewan ataupun memotong," terangnya.

Untuk sunat, waktu yang dianggap baik seperti pada Minggu, Senin, Selasa, Rabu pada minggu kedua dan keempat. Kemudian Kamis minggu ketiga, lalu Jumat minggu pertama dan kelima serta Sabtu minggu kedua dan keempat, bisa juga minggu kelima. Penentuan waktu ini merujuk pada buku Kitab Primbon Betaljemur Adammakna karangan punggawa Keraton Jogjakarta Soemodidjojo pada 1965 silam.

Paiman sudah sering menghitungkan hari baik untuk hajatan. Bahkan selama tiga bulan terakhir sudah ada 25 orang yang meminta tolong untuk menghitungkan sangat. Mulai dari sunat, menikah, membenarkan pagar rumah, membangun rumah dan lainnya. Hampir 30 tahun dia membantu orang dalam menghitungkan hari baik. Dia sendiri telah belajar kepada empat guru untuk bisa membaca primbon.

“Kalau sunat menghitungnya itu neptu anak dan orang tuanya,” ujarnya.

Diakui Paiman, itu memang rumit. Apalagi kalau menghitung hari pernikahan dan membangun rumah. Lebih rumit lagi karena harus pakai gabah. Tujuan menghitung sangat itu untuk khalis gabi, keselamatan dan kebaikan.

“Ketika punya perlu agar selamat. Istilahnya, bocahe, orang tua dan suku baune (leluhurnya, Red) selamat. Dan di sini setiap hajatan harus dihitung waktu yang baik," katanya.

Lalu darimana dan sejak kapan sangat diterapkan? Sesepuh Desa Sukabumi, Cepogo, K.H. Maskuri menjelaskan, sangat merujuk pada penentuan waktu. Sayangnya, penanggalan Jawa ini selalu dihubungkan dengan klenik, mitos dan lain sebagainya. Keberadaan penanggalan Jawa ini muncul sejak era Mataram.

Penanggalan ini lantas bercampur dengan budaya lokal, yang saat itu masih menganut animisme dan dinasmisme. Pada masa Mataram Islam, penanggalan resmi dilakukan. Yakni melebur kalender Saka, kalender Islam dan kalender Masehi yang dibawa penjajah. Gabungan ini lantas disebut penanggalan Jawa.

"Mulai muncul perhitungan-perhitungan hari baik untuk melaksanakan hajat. Baik masa tanam, menikah, sunat dan lainnya. Ada juga perhitungan hari apes yang harus dihindari seperti nogo dino (naga hari). Artinya kalau salah bisa dicaplok alias apes," terangnya.

Dalam perhitungannya, ada pakem-pakem yang harus dipahami. Sehingga perhitungan bisa tepat. Seiring berjalannya waktu, primbon justru dianggap sebagai ramalan. Padahal, primbon merupakan penanggalan Jawa yang telah dirumuskan. Meski tidak semua orang mampu menghitung penanggalan Jawa dengan baik. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#Neptu Dino Lan Pasaran #Penanggalan Jawa #shad ain tha #Ketua Adat Desa Lencoh #Tradisi Sangat #Tradisi Sangat di Lereng Merapi