Teknologi ini merupakan inovasi mahasiswa Fakultas Seni Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Aufa Daffa. Dia membuat tote bag dengan motif beragam. Terutama motif flora. Dengan sentuhan teknologi ecoprint, tote bag disulap menjadi karya nan trendi dan estetik.
“Semuanya menggunakan bahan-bahan natural, yang berasal dari alam. Mulai dari kain sampai pewarnaan. Terutama dedaunan,” kata Daffa, Jumat (15/7).
Bahan alami yang dimaksud Daffa, yakni memilih kain yang berasal dari serat alami. Alasannya, karena kain dengan serat alami memiliki tekstur yang dapat mengikat warna lebih kuat. Setelah dibersihkan, kain tersebut dimordan. Yakni proses mengikat pewarna alami, agar tidak mudah larut dalam air. Sekaligus membuka pori-pori kain, agar proses pewarnaan lebih merata.
“Setelah itu, memilih dedaunan dan bunga sebagai motif. Lalu ditempelkan di kain. Supaya posisi daun tidak bergeser, ditutup dengan kain selimut dan digulung hingga padat. Baru setelah itu gulungan dikukus,” imbuhnya.
Setelah dikukus beberapa menit, kain dikeringkan cukuyp dengan dianginkan. Bagi Daffa, pantang menjemur kain di bawah terik sinar matahari. Karena akan merusak pewarnaan dan motif yang sudah ditempelkan.
“Proses pengeringan memakan waktu 1-2 minggu. Biasanya pakai motif bunga sepatu, mawar, dan keningkir. Sering juga pakai kulit bawang bombay untuk membentuk motif. Atau pakai daun lima jari untuk motif ukuran besar,” terangnya.
Diakui Daffa, limbah yang dihasilkan dengan teknik ecoprint jauh lebih sedikit, bahkan nyaris tidak ada. “Dulu sering gagal serta banyak trial and error . Jadi tahu karakter kain dan daun yang dipakai seprti apa. Cocoknya dibuat motif dan warna apa,” urainya.
Daffa mengaku tidak pelit berbagi ilmu. Ke depan dia berniat menggelar pelatihan kepada masyarakat luas. “Supaya perekonomian masyarakat ikut berkembang. Karena memang kegiatan ini berawal dari pengabdian masyarakat,” ujarnya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram