Kabid Keolahragaan Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jateng Aria Chandra Destianto menuturkan, kegiatan tersebut diselenggarakan dua tahunan di tahun genap oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
"Untuk di tahun ganjil ada Pekan Olahraga Tradisional tingkat nasional. Bedanya, untuk kemasan festival lebih pada mengenalkan apa saja olahraga tradisional. Seperti dari Jateng menampilkan egrang batok. Sedangkan untuk pekan olahraga tradisional dalam bentuk pertandingan, ada nomor kejuaraan, ada juaranya," urainya.
Tujuan diselenggarakannya Festival Olahraga Tradisional tingkat nasional, lanjut Aria, tak lain guna mengenalkan olahraga tradisional. Tidak hanya dari Jateng. Tapi juga seluruh penjuru Nusantara.
“Bangsa ini terdiri dari banyak pulau dan suku. Di setiap daerah punya olahraga tradisionalnya masing-masing. Melalui event ini, kami memperkenalkan kekayaan ragam olahraga tradisional,” jelasnya.
Diakui Aria, di era digital, jarang dijumpai olahraga tradisional. “Padahal dulu waktu saya kecil, ini jadi permainan sehari-hari. Anak-Anak sekarang lebih milih main handphone. Tidak usah jauh-jauh, anak saya juga begitu. Era memang berubah. Tapi jangan sampai melupakan bahwa kita punya olahraga tradisional,” urainya.
Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional Ke-12 diikuti 19 kontingen. Terdiri dari 12 provinsi dan tujuh kabupaten/kota. Kali ini, Jateng, khususnya Kota Solo dipercaya sebagai tuan rumah oleh pemerintah pusat karena dinilai memiliki fasilitas olahraga lebih lengkap.
Terkait upaya Pemprov Jateng dalam melestarikan dan mengembangkan olahraga tradisional adalah dengan memastikan tak pernah absen dalan Festival Olahraga Tradisional tingkat nasional.
Disporapar sedang menginventarisasi atlet olahraga tradisional di Jateng untuk dijadikan andalan tingkat nasional. “Baru saja refocusing anggaran dua tahun ini. Banyak kegiatan yang tidak bisa dilaksanakan. Tapi its ok karena Pandemi. Saat ini mulai bangkit kembali. Setelah anggaran mulai normal, akan kami maksimalkan kemampuan," tuturnya.
Di Jateng, kata Aria, cukup banyak komunitas olahraga tradisional. Itu merupakan wujud kesadaran masyarakat melestarikan peninggalan leluluhur. "Salah satunya jemparingan. Saat ini makin eksis, semua pasti mengenal. Beberapa komunitas yang eksis melestarikan permainan tradisional sudah kami kumpulkan dan dibina. Kami dukung dan arahkan agar tidak sekadar melestarikan. Tapi bisa menjadi salah satu destinasi wisata di wilayah setempat,” urainya. (atn/wa/dam) Editor : Damianus Bram