Yuli Sumpil, dirigen sekaligus pentolan suporter Arema mengatakan, berdasar data yang dihimpun, ada lebih dari 200 orang yang meninggal dunia.
”Dari pengamatan dan pengakuan suporter Arema, banyak keluarga yang memilih langsung membawa pulang jenazah dari Stadion Kanjuruhan. Data itu nggak tercatat,” terang Yuli, Rabu (5/10).
Alhasil, lanjut dia, pemerintah dan polisi hanya mencatat jumlah korban meninggal yang berada di rumah sakit. Utamanya rumah sakit di sekitar Malang Raya.
”Padahal banyak Aremania (suporter Arema) yang menonton pertandingan itu, asalnya dari luar Malang Raya,” ujar Yuli.
Salah satunya siswa kelas IX SMP yang meninggal dua hari pasca tragedi Kanjuruhan. Siswa itu berasal dari Blitar. Kematiannya tidak tercatat pemerintah dan pihak kepolisian. Apalagi, suporter Arema berinisial BB itu meninggal dunia di rumahnya.
”Tentu tidak tercatat. Apalagi tidak (meninggal) di rumah sakit,” papar Yuli.
Menurut dia, angka 125 atau 131 korban jiwa atas tragedi Kanjuruhan, Malang itu tidak sebanding dengan penonton yang berdesakan dan terimpit di pintu keluar.
”Bayangkan, di stadion berkapasitas 40 ribu orang itu, hanya ada 2-3 pintu yang dibuka. Pintu yang dibuka pun berukuran kecil,” tutur Yuli.
Otomatis, menurut dia, jumlah korban meninggal bisa jadi lebih dari angka resmi pemerintah itu. ”Kami berharap tidak ada data yang dikurangi. Tidak ada pengurangan jumlah saudara kami yang meninggal dunia,” tegas Yuli. (jpg/ria) Editor : Syahaamah Fikria