Diketahui, selama ini sejumlah komoditas pangan kerap mengalami gejolak harga yang membuat petani maupun peternak merugi. Dengan adanya aksi borong hasil tani oleh para ASN, para petani maupun peternak mengaku sangat terbantu.
“Adanya program ini (ASN dan BUMD bantu petani), sangat membantu bagi saya dan kelompok peternak telur. Karena kegiatan ini harga telur bisa naik. Kan harga di pasaran masih rendah, turun. Dengan adanya program ini, harga lebih tinggi dari pasaran,” tutur petani dan peternak asal Kabupaten Pekalongan, Wahzuri.
Dia mengungkapkan, harga telur di pasar cukup rendah, sekitar Rp 21.000 per kilogram. Namun, dengan adanya program yang diinisasi Ganjar, telur-telur hasil panennya telah diborong dengan harga Rp 25.000 per kg.
“Alhamdulillah, sangat menolong, terbantu sekali,” kata Wahzuri saat mengirim telur ke kantor Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jateng.
Ya, dengan harga Rp 25.000 per kg yang dipatok dishanpan, diakui Wahzuri, sangat menguntungkan para peternak. Sebab, mereka bisa kembali modal untuk melanjutkan beternaknya, dan mendapat keuntungan yang cukup untuk keluarga.
“Alhamdulilah sangat membantu. Kalau bisa kirimnya ke sini terus, walaupun jaraknya jauh, harganya bisa untuk putaran operasional di kandang. Ini saya kirim 1 ton telur,” ujar pria yang mewakili Kelompok Tani Budi Doyo, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan.
Senada diungkapkan Jumali, peternak dan petani asal Sukorejo, Kabupaten Kendal. Bahkan, dia berharap program borong hasil tani dan ternak ini bisa terus berjalan. Paling tidak, dinas bisa menyerap hasil pertanian dan peternakan dengan harga yang sangat baik.
"Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Ganjar karena sudah membantu peternak di wilayah Sukorejo dan sudah membeli dengan harga di atas rata-rata. Dari kami selaku peternak memohon harga terus seperti ini," ujar dia.
Berdasarkan data dari Dishanpan Jateng, pada pekan pertama Oktober hingga Kamis (6/10), jumlah komoditas yang diborong ASN meliputi 8.485 kg telur, tomat 9.463 kg, dan kubis 16.852 kg.
Dishanpan Jateng mendistribusikan komoditas tersebut dalam bentuk satu paket. Saat ini sudah terkumpul 8.183 paket, yang dikirim ke OPD atau instansi-instansi di Jateng. Seperti di Kota Semarang, Rembang dan sekitarnya, Solo dan sekitarnya, Kebumen dan sekitarnya, Pekalongan dan sekitarnya, Banjarnegara dan sekitarnya, serta Cilacap dan sekitarnya.
Kepala Dishanpan Jateng Dyah Lukisari mengatakan, kegiatan membantu petani muncul sebagai bentuk kepedulian. Sebab, dengan harga komoditas di produsen yang rendah mengakibatkan petani merugi.
Bahkan, para petani sempat melakukan protes dengan mogok panen lantaran harga hasil panen yang hancur. Kondisi ini tentu mengancam hilangnya pangan di hulu.
"Eman-eman siap dikonsumsi kok enggak dikonsumsi. Maka, kita pun bikin gerakan ASN berbagi. Satu sisi, barang itu diambil ASN tidak harus dikonsumsi tapi disumbangkan ke panti-panti. Seperti yang dilakukan bapak Wagub Jateng (Taj Yasin Maimoen)," tutur Dyah. (bay/ria) Editor : Syahaamah Fikria