Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sekeluarga Tewas di Kalideres, Sejak Mei Dian Anggap Margaretha Masih Hidup: Diberi Susu

Syahaamah Fikria • Rabu, 23 November 2022 | 02:43 WIB
Rumah satu keluarga yang tewas di Kalideres, Jakarta Barat. (Tazkia Royyan/JawaPos.com)
Rumah satu keluarga yang tewas di Kalideres, Jakarta Barat. (Tazkia Royyan/JawaPos.com)
RADARSOLO.ID - Dian, 42, anak dari pasangan suami istri Budianto Gunawan dan Margaretha Margaretha Gunawan yang merupakan satu keluarga yang meninggal dunia di Kalideres, Jakarta Barat,  ternyata tetap menganggap ibunya masih hidup. Padahal, fakta terbaru mengungkap Margaretha sudah meninggal pada Mei lalu, atau enam bulan sebelum ditemukannya empat mayat dalam rumah di Kalideres, yang salah satunya adalah Dian.


Margaretha diketahui sudah meninggal pada 13 Mei 2022. Namun, berdasarkan kesaksian petugas koperasi simpan pinjam yang kala itu datang ke rumah Kalideres, Dian ngotot bahwa ibunya masih hidup.

Bahkan Dian sempat bilang kepada petugas koperasi simpan pinjem, bahwa dirinya sering memberikan ibunya susu.

“Saat pegawai koperasi simpan pinjam ini menyatakan bahwa ini sudah menjadi mayat, jawaban dari Dian ‘ibu saya ini masih hidup, tiap hari masih saya berikan minum susu’,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Hengki Haryadi di Polda Metro Jaya, Selasa (22/11).

Dengan kondisi sang ibu yang sudah menjadi mayat, Dian masih memperlakukan selayaknya orang masih hidup. Bahkan, dia kerap menyisir rambut Margaretha. Dian pun tetap tak merasa aneh meski petugas koperasi simpen pinjam itu mengingatkannya berkali-kali, bahwa ibunya itu sudah meninggal dunia.

“Kemudian (Dian) sambil menyisir karena rambut ibunya rontok semua,” ujarnya.

Sebelumnya, dari hasil pemeriksaan sejumlah saksi terungkap ternyata sang istri bernama Margaretha telah meninggal sejak 13 Mei 2022 silam. Hal itu terungkap ketika petugas koperasi simpan pinjam hendak meminta tanda tangan Margaretha. Karena keluarga Budianto hendak menggadaikan rumahnya yang seharga Rp 1,2 miliar.

Tapi petugas koperasi simpan pinjam tak bisa mencairkan uang sebesar Rp 1,2 miliar itu sebelum ada tanda tangan suami-istri selaku pemilik rumah. Saat itulah, petugas koperasi hendak memasuki kamar sang istri Budianto.

Namun, ketika petugas koperasi memaksa masuk kamar Margaretha, sang anak alias Dian mewanti-wanti agar tak menyalakan lampu. Alasannya, sang ibu sangat sensitif dengan sinar cahaya.

“Dipegang-pegang agak gemuk agak curiga. Tanpa sepengetahuan Dian, pegawai koperasi simpan pinjam ini menghidupkan flash HP-nya. Begitu diliat langsung yang bersangkutan teriak takbir Allahu Akbar, ini sudah mayat di tanggal 13 Mei,” papar Hengki.

Hingga kemudian, pada Kamis (10/11) sore, warga setempat menemukan satu keluarga di rumah Kalideres itu sudah menjadi mayat dengan kondisi jezanah telah mengering. Keempat korban itu adalah Rudyanto Gunawan, 71, yang merupakan suami Margaretha, 58. Selain itu, ada mayat Dian serta saudara ipar, Budyanto Gunawan.

Penemuan mayat satu keluarga itu berawal ketika ketua RT setempat mencium bau busuk dari dalam rumah korban pada Kamis (11/10) sekitar pukul 18.00 WIB. Ketua RT langsung melapor ke Polsek Kalideres terkait temuan bau busuk itu. Bersama polisi, ketua RT akhirnya memaksa masuk ke dalam rumah tersebut.

Ketika pintu utama dibuka, petugas mendapati empat mayat di tiga ruangan berbeda, yakni ruang tamu, kamar tengah dan ruang belakang. Polisi langsung melakukan pemeriksaan di sekitar lokasi. Setelah itu, keempat korban dievakuasi ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati (Jakarta Timur) untuk proses otopsi. (pojoksatu/jpg/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#keluarga kalideres #kejanggalan sekeluarga tewas di kalideres #satu keluarga tewas di kalideres #Margaretha