Sampah rumah tangga, oleh para siswa dimanfaatkan sebagai bahan dasar pupuk kompos. Pembuatan pupuk organik tersebut dilaksanakan siswa kelas IV, didampingi guru kelas Agung Sudarwanto. Dia mengaku ide tersebut muncul karena, setelah melihat sampah rumah tangga di sekitar siswa yang tidak dimanfaatkan.
Menurut Agung, sampah organik rumah tangg banyak mengandung bahan yang baik untuk dijadikan pupuk. Seperti daun-daunan, buah-buahan, kotoran hewan, bubuk teh dan kopi, kulit telur, dan sebagainya.
“Bahan-bahan tersebut dipilih, karena memiliki kandungan unsur hara tinggi. Potensial untuk dijadikan bahan pembuatan pupuk organik,” ungkap Agung, Jumat (20/1/2023).
Proses pengolahan pupuk kompos organik ini cukup sederhana. Langkah pertama yang dilakukan, yakni mencacah sampah-sampah organik yang akan dijadikan adonan pupuk. Lalu dimasukkan ke dalam wadah.
Kemudian campurkan bekatul atau dedak. Lalu difermentasi, dengan mendiamkan adonan selama tiga minggu. Fermentasi dilakukan untuk mendapatkan mikroorganisme, yang nanti dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
“Keuntungan yang diberikan kompos tidak hanya untuk saat ini saja. Tetapi untuk jangka panjang, hingga berpuluh-puluh tahun kemudian. Saat ini sudah banyak masyarakat yang mulai beralih menggunakan pupuk organik,” imbuh Agung.
Pupuk kompos organik kreasi para siswa ini, memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya mudah disimpan, mudah didistribusikan, mudah diaplikasikan ke tanaman, serta campuran komposisi pupuk homogen. Termasuk mampu melepaskan unsur hara makro dan mikro secara perlahan dan berkelanjutan. Sehingga meminimalkan hilangnya unsur hara akibat proses leaching.
“Pupuk ini direkomendasikan kepada masyarakat, khususnya petani. Karena ramah lingkungan, kandungan unsur haranya kompleks, praktis, bahan utama pembuatan pupuk mudah didapatkan, serta kualitasnya sesuai dengan standar yang ditetapkan,” bebernya.
Sementara itu, wakil kepala sekolah SD setempat Dwi Jatmiko menyebut ke depan inovasi pupuk ini akan lebih dikembangkan. Rencananya akan menggandeng kalangan akademisi.
“Kami juga akan menggandeng para mahasiswa pertanian, untuk memroduksi pupuk kompos organik secara masal. Kami juga menerima masukan dari wawali, terutama perbaikan dalam hal packaging. Harus lebih menarik lagi,” ungkapnya. (ian/fer/dam) Editor : Damianus Bram