Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Candi Merak di Desa Karangnongko, Klaten: Bercorak Hindu, Berada di Tengah Kampung

Damianus Bram • Minggu, 11 Juni 2023 | 16:00 WIB
UNIK: Kompleks Candi Merak diperkirakan dibangun pada abad 8 hingga 10 masehi. Tak dipungut biaya sedikitpun untuk masuk. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
UNIK: Kompleks Candi Merak diperkirakan dibangun pada abad 8 hingga 10 masehi. Tak dipungut biaya sedikitpun untuk masuk. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.COM - Julukan Kota Seribu Candi tepat disematkan untuk Kabupaten Klaten. Mengingat banyak dijumpai candi bercorak Hindu dan Budha yang bisa menjadi alternatif wisata edukatif. Salah satunya Candi Merak di Desa Karangnongko, Kecamatan Karangnongko.

Candi bercorak Hindu ini bisa ditempuh dari Kantor Bupati Klaten sekira 15 menit dengan mengendarai sepeda motor karena jaraknya hanya 8,3 kilometer (km) saja. Sesampai di kompleks Candi Merak akan melihat sebuah candi induk dengan tiga candi perwara. Candi yang diperkirakan dibangun pada abad 8 hingga 10 masehi.

Candi Merak memiliki ukuran panjang 8,86 meter, lebar 13,5 meter dan tinggi 12 meter. Itu merupakan hasil pemugaran yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Bagian kaki candi dan tubuh telah selesai dipugar pada 2007 dan 2010. Sedangkan bagian atap candi selesai pada 2011.

Candi Merak terdapat beberapa arca. Seperti arca ganesa, durga, dan yoni. Termasuk arca-arca lainnya yang berada di sekitar halaman Candi Merak seperti nandi dan dewa-dewa lainnya dalam agama Hindu.

Bagi pengunjung yang hendak memasuki Kompleks Candi Merak dengan luas sekira 1.000 meter persegi itu tanpa ditarik tiket masuk alias gratis. Buka setiap harinya, untuk Senin sampai Kamis dan Sabtu mulai dari pukul 07.30-17.00. Sedangkan pada Jumat mulai pukul 07.30-14.00 dan Minggu pukul 07.30-13.30.

”Candi Merak ini masih digunakan untuk sembahyang bagi Umat Hindu juga. Tetapi tidak setiap hari,” ucap Petugas Perawat Candi Merak, Susanto saat ditemui Jawa Pos Radar Solo pada Jumat (9/6/2023).

Susanto mengungkapkan, setiap harinya ada saja wisatawan yang berkunjung ke Candi Merak tersebut. Sekalipun letaknya berada di tengah kampung, tetapi menjadi jujugan bagi wisatawan untuk melihat kemegahan candi lebih dekat.

Dia menjelaskan pengunjung yang datang didominasi wisatawan domesti dari sejumlah kota di sekitar Klaten. Mereka berasal dari dinas, mahasiswa, pelajar hingga umum. Tetapi belum lama ini juga mendapatkan kunjungan dari wisatawan mancanegara dari Australia yang penasaran dengan Candi Merak tersebut.

”Bagi pengunjung yang datang ke Candi Merak hanya mengisi buku tamu saja. Buka sesuai waktu yang telah ditentukan,” tambah Susanto.

Sementara itu, pegiat Cagar Budaya asal Klaten, Hari Wahyudi menjelaskan, baginya Candi Merak begitu spesial karena keberadaan arca durga. Sebuah patung batu Dewi Durga yang merupakan tokoh mitologi Hindu yang merupakan bagian keluarga Dewa Siwa.

”Untuk penamaan dari Candi Merak itu, kalau informasi dari warga setempat dahulunya merupakan habitat burung merak. Tapi kalau benar dahulunya merupakan habitat burung merak tetapi tidak ditemukan bekas kotorannya di sana,” ucapnya.

Di sisi lain, terkait penamaan Candi Merak itu bisa dimungkinkan diambil dari arca Kartikeya yang merupakan dewa dengan berkendaraan burung merak. Meski begitu, Hari menambahkan dahulunya menyebut Candi Merak itu dengan sebutan Bethara Gono karena awal penemuan candi dari temuan arca ganesa.

”Untuk luasnya seharusnya lebih dari saat ini. Terutama untuk bagian halaman dan semacam pagarnya yang diperkirakan lebih luas,” ucapnya.

Hari pun menambahkan, ketika wisatawan sampai Candi Merak bisa melanjutkan perjalanan ke situs lainnya di Kecamatan Karangnongko yang menarik di kunjungi. Salah satunya situs Karangnongko. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#Candi Merak di Klaten #Kota Seribu Candi #Candi di Klaten #Candi bercorak Hindu #Candi Merak