Imran menuturkan, kejadian berawal saat ada kasus kematian sapi dan kambing milik warga berinisial KR di Gunungkidul pada 18 Mei lalu. Usai ditemukan mati, pemiik justru menyembelih dan membagikan dagingnya kepada warga untuk dikonsumsi.
"Jadi ini yang menjadi salah satu penyebab penyebarannya," kata Imran, dilansir dari JawaPos.com, Kamis (6/7).
Dalam proses penyembelihan sapi yang sudah mati itu, ada seorang warga berinisial WP yang ikut terlibat dan kemudian menjadi pasien yang positif antraks.
"Tanggal 1 Juni WP masuk ke rumah sakit dengan keluhan gatal-gatal, bengkak, dan luka. Waktu diperiksa ada sampelnya positif spora antraks dari tanah tempat penyembelihan sapi tadi," ungkap Imran.
Dua hari berlalu, WP kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Sardjito Jogja. Di sana, sampel darahnya diambil, dan dinyatakan suspek antraks.
"Tanggal 4 Juni WP meninggal," ucap Imran.
Terkait kejadian ini, Imran mengatakan, tren kejadian antraks di Jogja dalam kurun waktu lima tahun terakhir memang selalu ditemui pasien positif antraks tiap tahunnya.
"Meski belum ada kematian. Jadi selama ini karena yang menyerang antraks jenis kulit," tandas Imran. (jpg/ria)
Editor : Syahaamah Fikria