RADARSOLO.COM - Motif mutilasi di Sleman, dengan korban mahasiswa UMY Redho Tri Agustian hingga kini masih jadi misteri. Diketahui, dua pelaku mutilasi bahkan nekat merebus potongan tubuh R demi menghilangkan jejak.
Kriminolog dan ahli psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menilai kasus mutilasi di Sleman itu seakan membuka tabir adanya dugaan cinta sesama jenis.
Hal itu dilihat dari rentetan kejadian yang dialami korban. Terlebih dari penemuan jasad korban, yang ditemukannya potongan-potongan tubuh di lima titik di Sleman.
Temuan pertama di area aliran Sungai Bedog, Jembatan Kelor, Kecamatan Turi, Sleman, pada Rabu (12/7) malam. Yang ditemukan, yaitu bagian tubuh manusia berupa tangan dan dua potong kaki.
Selanjutnya pada Sabtu (15/7), temuan potongan tubuh lainnya yang diduga dari korban yang sama. Potongan tubuh itu ditemukan di sungai Krasak, Gimberan, Merdikorejo, Tempel, Sleman.
"Saya merasa tak nyaman melihat pose-posenya di IG (Instagram)," kata Reza, dilansir dari Pojoksatu.id (Jawa Pos Group), Selasa (18/7).
Reza menduga, antara pelaku dan korban diduga terlibat hubungan asmara sesama jenis.
"Di mata saya dia gay. Mungkin dia diperkosa sesama gay," sebut Reza.
Kendati demikian, dia menegaskan bahwa apa yang disampaikannya itu masih sebatas spekulasi saja.
Karena itu, Reza enggan berkomentar lebih banyak dan lebih dalam terkait kasus mutilasi Sleman tersebut. Demikian pula ketika ditanya tentang motif mutilasi mahasiswa UMY Redho Tri Agustian. "No comment. No comment," singkatnya.
Di sisi lain, Reno, tetangga kos yang tinggal bersebelahan dengan kamar kos salah seorang pelaku mutilasi di Sleman, Waliyin, mengungkap fakta lain. Menurut dia, Waliyin cukup misterius.
Reno mengaku, dirinya sama sekali tidak pernah melihat Waliyin bergaul dengan perempuan. Dia juga mengaku tidak pernah menemui tetangga kosnya itu kedatangan tamu teman perempuan.
Sebaliknya, dirinya sudah beberapa kali melihat langsung Waliyin pulang membawa cowok. Namun, Reno juga sama sekali tidak mengenal teman laki-laki yang dibawa pulang ke tempat kos oleh pelaku mutilasi Redho Tri Agustian itu.
"Sering (menginap). Teman cowok," bebernya, Senin (17/7).
Meski demikian, baik dirinya maupun tetangga kos lainnya sama sekali tidak pernah menaruh curiga. Menurutnya, karena teman yang diajaknya seorang laki-laki sehingga tidak menimbulkan kecurigaan di tetangga sekitar.
Kecuali, jika yang diajak ke kosnya adalah lawan jenis, baru mengundang perhatian warga sekitar.
"Tetangga ya biasa-biasa aja. Kan, tidak ada unsur kecurigaan yang lain. Enggak ada," kata dia. (pojoksatu/jpg/ria)
Editor : Syahaamah Fikria